Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERIKANAN. Tampilkan semua postingan

FAKTOR PENENTU DALAM BUDIDAYA

BEBERAPA FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKA DALAM BERBUDIDAYA

1. BENIH IKAN
Banyak dari teman teman budidaya kita meremehkan tentang benih ikan lele yang akan di tebar. Kita kadang “sembarangan” dalam hal memilih dan membeli benih ikan lele.
Mereka menyediakan bibit lele dari 2 kondisi yaitu dari pembenihan dengan kolam tanah dan tanpa tanah.Banyak yang melakukan pembesaran ikan lele di kolam terpal atau tembok yang tanpa tanah tapi bibit yang digunakan bibit lele dari kolam tanah. Padahal hal ini salah karena terdapat 2 kondisi yang berbeda.yaitu dari kondisi yang baik ke kondisi yang lebih ekstrem. Hasilnya pertumbuhan lambat,banyak yang kena penyakit dan bermuara pada hasil panen yang merosot tidak sesuai dengan keinginan.
Untuk mengetahui mengapa bisa seperti itu dan bagaimana cara mengatasinya dapat menghubungi penulis.

2. PAKAN
Banyak pembudidaya dalam mengelola pembesaran ikan lele menggunakan program pakan sesukanya dengan menghiraukan prosedur yang ada. Ada yang menggunakan pakan pelet standar tapi hanya sebagian atau malah kurang dari 50%. Mereka menambahkan pakan dengan daging,kerang,ayam mati,tikus mati dan beberapa daging yang tidak terpakai untuk porsi pakan ikan lele. Sepintas kalau dilihat memang ekonomis dari biaya pakan yang cukup mahal. Tetapi sebenarnya hal tersebut jusru akan merugikan petani budidaya. Boleh di cek yang menggunakan pakan tambahan tersebut diatas pasti mengalami kerugian total.Hasil panen menurun drastis misalnya harusnya menghasilkan 200 kg yang ada hanya 20 – 40 kg dengan tambahan adanya ikan lele berukuran super besar 3 – 5 ekor..Benar atau tidak?Setelah itu petani budidaya akan bingung kenapa bisa terjadi.padahal sudah diberi pakan tambahan yang kalau dilihat “Lebih bergizi dan berprotein”(Menurut perasaan).
Disini penulis ada jawabannya dan cara mengatasinya.bila berminatdapat menghubungi penulis untuk mendapatkan jawaban dan cara mengatasinya.

3. JUMLAH TEBAR
Untuk jumlah tebar sebagian besar petani budidaya ikan lele jarang yang menghitung berapa jumlah yang sesuai dengan kolam yang dipunyai. Tidak jarang untuk kolam denga luas 3 x 5 meter di beri bibit ikan lele lebih dari 10.000 ekor. Hasilnya banyak ikan yang tidak tumbuh. Muncul pertanyaan “ kok gak besar besar lele yang dipelihara.”. dan setelah dipanen lagi lagi hasil panen mengecewakan.selain tonase kurang dari yang diharapkan ikan yang dihasilkan kurus kurus dan tidak disukai pasar.Apa yang terjadi..
Lewat modul yang disusun oleh penulis akan didapat jawabannya dan dapat diketahui cara mengatasinya. Tertarik? Anda dapat menghubungi penulis.
4. KOLAM
Pemilihan kolam yang dipakai untuk budidaya kadang terlihat sepele.padahal itu menentukan keberhasilan dan kelangsungan budidaya lele itu sendiri. Banyak petani budidaya yang gulung tikar atau rugi terus menerus karena salah memilih bentuk kolam.Ada beberapa jenis kolam yang digunakan dalam budidaya ikan lele dari kolam beton/tembok,kolam tanah,kolam terpal atau perpaduan dua kolam tersebut.
Masing masing mempunyai kelebihan dan kelemahan masing masing..tetapi ada satu yang lebih ekonomis,efektif dan efisien..dan kolam itu adalah kolam terpal dengan desain tertentu.mengapa desain tertentu.karena ada beberapa keunggulan kolam itu dibanding kolam lain.salah satunya bisa menghemat biaya operasional dan praktis.ada kelebihan lain. Kelihatan sederhana tapi bisa dibuktikan keefektifan dan keefisiennya
Anda bisa dapatkan model kolam itu dengan menghubungi penulis untuk mendapatkan modul yang akan mengupas segala persoalan budidaya itu.
5. AREAL KOLAM
Yang dimaksud dengan areal kolam adalah tanah atau lahan yang akan digunakan untuk budidaya ikan lele.Kadang kita menggunakan areal luas yang seharusnya bisa menghasilkan 8 juta – 10 juta rupiah tetapi banyak yang hanya mendapatkan untung ratusan ribu bahkan merugi yang akhirnya terbengkalai menjadi lahan yang tidak efektif.
Didalam tulisan atau modul yang disusun penulis anda akan dapatkan cara memanfaatkan lahan seoptimal mungkin.

6. HILANG ATAU BERKURANGNYA IKAN LELE
Ada anggapan sebagian teman teman budidaya kita hilang atau berkurangnya ikan lele yang dibudidayakan karena akibat masuknya ikan kelumpur atau ada yang memancing.padahal anggapan itu belum tentu benar karena hilangnya ikan lele atau berkurangnya hasil itu murni disebabkan kesalahan prosedur budidaya

BUDIDAYA IKAN LELE

Persiapan Pemijahan
Setelah tahap persiapan kolam terpenuhi hal yang harus dilakukan adalah tahap pemijahan indukan ikan lele. Pada tahap ini meliputi:

  1. Persiapan Peralatan untuk pemijahan
  2. Persiapan indukan ikan (pola makan)
  3. Pasca proses pemijahan
1. Persiapan Peralatan Pemijahan
Hal yang sangat perlu kita perhatikan sebelum tahap pemijahan adalah kelengkapan peralatan kolam pemijahan yang meliputi :

Ijuk yang berfungsi sebagai tempat melekatnya telur untuk dibuahi, ijuk ini di susun berjajar merata pada bambu yang dibelah lebar +/ 2cm dengan panjang 1-1,25 meter. Untuk kolam ukuran 2 x 4 meter dapat kita gunakan 5 baris rangkaian ijuk.
Kain saringan pilih kain yang paling kecil lubangnya (halus), kain ini berfungsi untuk melapisi pipa saring agar benih ikan yang baru menetas tidak masuk ke pipa buang
Pipa saringan pilih diameter yang disesuaikan dengan ukuran ikan kita, kalau untuk ikan yang baru menetas pilih diameter buangannya yang paling kecil karena walaupun pipa saring ini sudah kita lapisi dengan kain saring, jika pemilihan diameter pipa saring terlalu besar maka banyak ikan yang tersedot / menempel ke pipa saring.

Pipa buang panjang pipa disesuaikan dengan level ketinggian air di kolam, dimana ketinggian air di kolam di sesuaikan dengan umur / ukuran ikan untuk tahap awal pemijahan panjang pipa +/- 30 - 40 cm. 
Rangkaian Ijuk












2. Persiapan indukan ikan


Indukan yang siap dipijahkan
Pada tahap ini yang biasanya saya lakukan adalah terapi untuk pematangan telur & sperma dari indukan ikan lele. Untuk pakan harian indukan saya memberikan pelet 782 ditambah pro**c plus sebuah produk b*s**r dan egg**nt untuk unggas untuk kebutuhan serat kami menggunakan daun pepaya dan untuk kebutuhan protein hewaninya setiap 1 minggu sekali kami berikan anakan / telur puyuh (hasil penetasan telur puyuh yang reject), 2 minggu sebelum indukan ikan lele dipijahkan maka konsumsi protein hewaninya dihilangkan dulu dari pola makannya, jadi makanannya hanya menggunakan pelet + pro**c plus + egg**nt dan daun pepaya diberikan setelah pelet habis. Pada H- (1-2) dari pemijahan maka indukan dipuasakan untuk mengurangi kandungan lemak dalam perut ikan. Dalam tahap pemijahan ini hal yang sangat vital adalah pemilihan indukan yang siap pijah baik betina atau pejantannya karena dengan pemilihan kematangan telur / sperma dari indukan yang akan dipijahkan akan sangat menentukan tingkat keberhasilan kita. Pada gambar diatas adalah indukan yang siap dipijahakan. Setelah kita dapatkan sepasang indukan yang siapa pijah maka kita tempatkan pada kolam pemijahan yang telah diisi air +/- 30 cm, untuk setiap kolam 2 x 4 meter idealnya 1 pasang indukan, untuk proses pemijahan ini biasanya antara pkl 16.00 - 17.30, proses pemijahan berlangsung +/- 15 jam. Setelah itu indukan diangkat dan ditempatkan kembali di kolam indukan.

3. Pasca Proses Pemijahan
Setelah indukan diangkat dan dikembalikan ke kolam penampungan, indukan tersebut diberikan makanan pelet + protec plus + egg stimulant, berikan sedikit saja sampai nafsu makan indukan pulih. Untuk kurun waktu 2 bulan indukan akan siap untuk dipijahkan kembali tapi hal ini bergantung dengan rawatan kita. Untuk mempercepat pematangan gonad indukan berikan makanan yang berprotein tinggi dengan rentang waktu 1 minggu sekali sedangkan untuk pakan pelet berikan setiap hari, berikan pada sore hari.

Hubungan Pakan dengan Pertumbuhan


            Dalam hal  kegiatan pemeliharaan  dan pemberian pakan menurut Hickling (1971) pakan yang tercampur dengan enzim akan dapat dicerna dengan baik dan yang tidak dicerna akan dikeluarkan bersama kotoran. Pakan merupakan faktor yang penting dalam usaha pembesaran budidaya ikan. Dalam usaha pembesaran, ikan diharuskan tumbuh hingga menncapai ukran pasar. Untuk itu, ikan harus makan, tidak sekedar mempertahankan kondisi tubuh., tetapi juga untuk menumbuhkan jaringan otot atau daging (pertumbuhan somatis).
            Pakan akan diproses dalam tubuh ikan dan unsur-unsur nutrisi atau gizinya akan diserap untuk dimanfaatkan membangun jaringan dan daging, sehingga pertumbuhan ikan akan terjamin. Kecepatan laju pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh jenis dan kualitas pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, kondisi lingkungan mendukung, dapat dipastikan laju pertumbuhan ikan akan menjadi cepat sesuai dangan yang diharapkan (Khairuman dan Amri,2002).

GR (Grow Rate)


            Laju pertumbuhan larva dinyatakan sebagai perubahan bobot tubuh rata-rata selama percobaan berlangsung. Laju pertumbuhan dihitung dengan rumus yang dikemukakan oleh Zonneveild et al dalam Syandri (1996) dalam  Arnentis dan Darmawati (2003) yaitu


Keterangan :
            GR = Laju pertumbuhan
            Wt = Bobot rata-rata benih pada saat t (mg)
            Wo = Bobot rata-rata benih saat awal percobaan (mg)
            t = jumlah hari selama percobaan.

FCR (Feed Convention Ratio)

 Menurut Effendy (2004), Feed Convertion Ratio adalh suatu ukuran yang menyatakan ratio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg ikan kultur. Nilai FCR=2 artinya untuk memproduksi 1 kg daging ikan dalam sistem akuakultur maka dibutuhkan 2 kg pakan. Semakin besar nilai FCR, maka semakin semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 kg ikan daging kultur. FCR seringkali dijadikan indikator kinerja teknis dalam mengevaluasi suatu usaha akuakultur.
            Menurut NCR (1977) dalam Tahapari dan Suhenda (2009) konversi pakan merupakan perbandingan antara jumlah bobot pakan dalam keadaan kering yang diberikan selama kegiatan budidaya yang dilakukan dengan bobot total ikan pada akhir pemeliharaan dikurangi dengan jumlah bobot ikan mati dan bobot awal ikan selama pemeliharaan. Dengan persamaan sebagai berikut:

FCR =            F            x 100.
                       ( Wt + D ) – Wo

Keterangan :
FCR = Food Convertion Ratio.
Wo = Berat hewan uji pada awal penelitian .
Wt = Berat hewan uji pada akhir penelitian .
D. = Jumlah ikan yang mati
F = Jumlah pakan yang dikonsumsi.

SURVIVAL RATE (SR)

            Kelangsungan hidup (SR) yaitu persentase jumlah benih ikan kerapu tikus yang masih hidup, setelah diberi pakan. Penghitungan SR dilakukan pada akhir penelitian. Penghitungan kelangsungan hidup dirumuskan oleh (Mudjiman, 2004 dalam Sari 2006) sebagai berikut :
SR = Nt x 100%
Keterangan :     S = Kelangsungan hidup (%)
                        Nt = Jumlah biota pada saat panen (ekor)
                        No = Jumlah biota pada saat penebaran (ekor)
                 2.7.5           Hubungan Pakan dengan Pertumbuhan
            Dalam hal  kegiatan pemeliharaan  dan pemberian pakan menurut Hickling (1971) pakan yang tercampur dengan enzim akan dapat dicerna dengan baik dan yang tidak dicerna akan dikeluarkan bersama kotoran. Pakan merupakan faktor yang penting dalam usaha pembesaran budidaya ikan. Dalam usaha pembesaran, ikan diharuskan tumbuh hingga menncapai ukran pasar. Untuk itu, ikan harus makan, tidak sekedar mempertahankan kondisi tubuh., tetapi juga untuk menumbuhkan jaringan otot atau daging (pertumbuhan somatis).
            Pakan akan diproses dalam tubuh ikan dan unsur-unsur nutrisi atau gizinya akan diserap untuk dimanfaatkan membangun jaringan dan daging, sehingga pertumbuhan ikan akan terjamin. Kecepatan laju pertumbuhan ikan sangat dipengaruhi oleh jenis dan kualitas pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya mencukupi, kondisi lingkungan mendukung, dapat dipastikan laju pertumbuhan ikan akan menjadi cepat sesuai dangan yang diharapkan (Khairuman dan Amri,2002).