Tampilkan postingan dengan label ILMU PAKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ILMU PAKAN. Tampilkan semua postingan

Pengertian Probiotik dan Prebiotik


 

Prebiotik diperkenalkan oleh Gibson dan Robefroid pada1995, yang merupakan bahan makanan yang mengandung nutrisi, digunakan untuk mendukung pertumbuhan dan berkembangnya bakteri baik yang sudah ada di dalam usus. Tujuannya supaya sehingga dominasi bakteri pathogen bisa ditekan.

Pada tahun 1992, Fuller memperkenalkan konsep probiotik
Probiotik, yaitu suatu makanan tambahan berupa mikroba hidup baik bakteri maupun yeast yang mempunyai pengaruh menguntungkan bagi hewan dengan cara dengan cara memperbaiki keseimbangan mikroflora usus.

Jadi perbedaan antara keduanya yaitu probiotik mengandung bakteri menguntungkan, dimasukkan ke dalam pencernaan agar dominasi bakteri pathogen menurun, sedangkan prebiotik kerjanya menghambat pertumbuhan bakteri pathogen secara langsung sehingga pertumbuhan bakteri menguntungkan lebih optimal. Proses penghambatan ini dapat berupa pengikatan (penggumpalan) bakteri pathogen tersebut. Secara tidak langsung bakteri menguntungkan dapat tumbuh dengan baik.

Sinbiotik (Eubiotik) adalah kombinasi probiotik dan prebiotik. Penambahan mikroorganisme hidup (probiotik) dan substrat (prebiotik) untuk pertumbuhan bakteri misalnya fructooligosaccharide (FOS) dengan bifidobacterium atau lactitol dengan lactobacillus. Keuntungan dari kombinasi ini adalah meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang spesifik telah tersedia untuk fermentasi sehingga tubuh mendapat manfaat yang lebih sempurna dari kombinasi ini
obiotik adalah bakteri hidup yang diberikan sebagai suplemen makanan yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada kesehatan pada manusia dan binatang, dengan memperbaiki keseimbangan mikroflora intestinal. Mikroflora yang digolongkan sebagai probiotik adalah yang memproduksi asam laktat terutama dari golongan Lactobacilli dan Bifidobacteria.

Probiotik yang efektif harus memenuhi beberapa kriteria :
1) memberikan efek yang menguntungkan pada host, 2) tidak patogenik dan tidak toksik, 3) mengandung sejumlah besar sel hidup, 4) mampu bertahan dan melakukan kegiatan metabolisme dalam usus, 5) tetap hidup selama dalam penyimpanan dan waktu digunakan, 6) mempunyai sifat sensori yang baik, 7) diisolasi dari host.

Efek kesehatan yang menguntungkan dari probiotik adalah :

1) memperbaiki keluhan malabsorsi laktosa, 2) meningkatkan ketahanan alami terhadap infeksi di usus, 3) supresi kanker, 4) mengurangi kadar kholesterol darah, 5) memperbaiki pencernaan, 6) stimulasi imunitas gastrointestinal.

Prebiotik adalah nondigestible food ingredient yang mempunyai pengaruh baik terhadap host dengan memicu aktivitas, pertumbuhan yang selektif, atau keduanya terhadap satu jenis atau lebih bakteri penghuni kolon. Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak dicerna dan tidak diserap, biasanya dalam bentuk oligosakarida dan serat pangan.

Food ingredient yang diklasifikasikan sebagai prebiotik harus : - See more at: http://staypublichealth.blogspot.com/2012/02/pengertian-probiotik-prebiotik-dan.html#sthash.YvP7GKvG.dpuf
Probiotik adalah bakteri hidup yang diberikan sebagai suplemen makanan yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada kesehatan pada manusia dan binatang, dengan memperbaiki keseimbangan mikroflora intestinal. Mikroflora yang digolongkan sebagai probiotik adalah yang memproduksi asam laktat terutama dari golongan Lactobacilli dan Bifidobacteria.

Probiotik yang efektif harus memenuhi beberapa kriteria :
1) memberikan efek yang menguntungkan pada host, 2) tidak patogenik dan tidak toksik, 3) mengandung sejumlah besar sel hidup, 4) mampu bertahan dan melakukan kegiatan metabolisme dalam usus, 5) tetap hidup selama dalam penyimpanan dan waktu digunakan, 6) mempunyai sifat sensori yang baik, 7) diisolasi dari host.

Efek kesehatan yang menguntungkan dari probiotik adalah :

1) memperbaiki keluhan malabsorsi laktosa, 2) meningkatkan ketahanan alami terhadap infeksi di usus, 3) supresi kanker, 4) mengurangi kadar kholesterol darah, 5) memperbaiki pencernaan, 6) stimulasi imunitas gastrointestinal.

Prebiotik adalah nondigestible food ingredient yang mempunyai pengaruh baik terhadap host dengan memicu aktivitas, pertumbuhan yang selektif, atau keduanya terhadap satu jenis atau lebih bakteri penghuni kolon. Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak dicerna dan tidak diserap, biasanya dalam bentuk oligosakarida dan serat pangan.

Food ingredient yang diklasifikasikan sebagai prebiotik harus :

  1. tidak dihidrolisa dan tidak diserap dibagian atas traktus gastrointestinal sehingga dapat mencapai kolon tanpa mengalami perubahan struktur dan tidak diekskresikan dalam feses
  2. substrat yang selektif untuk satu atau sejumlah mikroflora yang menguntungkan dalam kolon, jadi memicu pertumbuhan bakteria
  3. mampu merubah mikroflora kolon menjadi komposisi yang menguntungkan kesehatan
Sinbiotik (Eubiotik) adalah kombinasi probiotik dan prebiotik. Penambahan mikroorganisme hidup (probiotik) dan substrat (prebiotik) untuk pertumbuhan bakteri misalnya fructooligosaccharide (FOS) dengan bifidobacterium atau lactitol dengan lactobacillus. Keuntungan dari kombinasi ini adalah meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang spesifik telah tersedia untuk fermentasi sehingga tubuh mendapat manfaat yang lebih sempurna dari kombinasi ini. - See more at: http://staypublichealth.blogspot.com/2012/02/pengertian-probiotik-prebiotik-dan.html#sthash.YvP7GKvG.dpuf
Probiotik adalah bakteri hidup yang diberikan sebagai suplemen makanan yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada kesehatan pada manusia dan binatang, dengan memperbaiki keseimbangan mikroflora intestinal. Mikroflora yang digolongkan sebagai probiotik adalah yang memproduksi asam laktat terutama dari golongan Lactobacilli dan Bifidobacteria.

Probiotik yang efektif harus memenuhi beberapa kriteria :
1) memberikan efek yang menguntungkan pada host, 2) tidak patogenik dan tidak toksik, 3) mengandung sejumlah besar sel hidup, 4) mampu bertahan dan melakukan kegiatan metabolisme dalam usus, 5) tetap hidup selama dalam penyimpanan dan waktu digunakan, 6) mempunyai sifat sensori yang baik, 7) diisolasi dari host.

Efek kesehatan yang menguntungkan dari probiotik adalah :

1) memperbaiki keluhan malabsorsi laktosa, 2) meningkatkan ketahanan alami terhadap infeksi di usus, 3) supresi kanker, 4) mengurangi kadar kholesterol darah, 5) memperbaiki pencernaan, 6) stimulasi imunitas gastrointestinal.

Prebiotik adalah nondigestible food ingredient yang mempunyai pengaruh baik terhadap host dengan memicu aktivitas, pertumbuhan yang selektif, atau keduanya terhadap satu jenis atau lebih bakteri penghuni kolon. Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak dicerna dan tidak diserap, biasanya dalam bentuk oligosakarida dan serat pangan.

Food ingredient yang diklasifikasikan sebagai prebiotik harus :

  1. tidak dihidrolisa dan tidak diserap dibagian atas traktus gastrointestinal sehingga dapat mencapai kolon tanpa mengalami perubahan struktur dan tidak diekskresikan dalam feses
  2. substrat yang selektif untuk satu atau sejumlah mikroflora yang menguntungkan dalam kolon, jadi memicu pertumbuhan bakteria
  3. mampu merubah mikroflora kolon menjadi komposisi yang menguntungkan kesehatan
Sinbiotik (Eubiotik) adalah kombinasi probiotik dan prebiotik. Penambahan mikroorganisme hidup (probiotik) dan substrat (prebiotik) untuk pertumbuhan bakteri misalnya fructooligosaccharide (FOS) dengan bifidobacterium atau lactitol dengan lactobacillus. Keuntungan dari kombinasi ini adalah meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang spesifik telah tersedia untuk fermentasi sehingga tubuh mendapat manfaat yang lebih sempurna dari kombinasi ini. - See more at: http://staypublichealth.blogspot.com/2012/02/pengertian-probiotik-prebiotik-dan.html#sthash.YvP7GKvG.dpuf
Probiotik adalah bakteri hidup yang diberikan sebagai suplemen makanan yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada kesehatan pada manusia dan binatang, dengan memperbaiki keseimbangan mikroflora intestinal. Mikroflora yang digolongkan sebagai probiotik adalah yang memproduksi asam laktat terutama dari golongan Lactobacilli dan Bifidobacteria.

Probiotik yang efektif harus memenuhi beberapa kriteria :
1) memberikan efek yang menguntungkan pada host, 2) tidak patogenik dan tidak toksik, 3) mengandung sejumlah besar sel hidup, 4) mampu bertahan dan melakukan kegiatan metabolisme dalam usus, 5) tetap hidup selama dalam penyimpanan dan waktu digunakan, 6) mempunyai sifat sensori yang baik, 7) diisolasi dari host.

Efek kesehatan yang menguntungkan dari probiotik adalah :

1) memperbaiki keluhan malabsorsi laktosa, 2) meningkatkan ketahanan alami terhadap infeksi di usus, 3) supresi kanker, 4) mengurangi kadar kholesterol darah, 5) memperbaiki pencernaan, 6) stimulasi imunitas gastrointestinal.

Prebiotik adalah nondigestible food ingredient yang mempunyai pengaruh baik terhadap host dengan memicu aktivitas, pertumbuhan yang selektif, atau keduanya terhadap satu jenis atau lebih bakteri penghuni kolon. Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak dicerna dan tidak diserap, biasanya dalam bentuk oligosakarida dan serat pangan.

Food ingredient yang diklasifikasikan sebagai prebiotik harus :

  1. tidak dihidrolisa dan tidak diserap dibagian atas traktus gastrointestinal sehingga dapat mencapai kolon tanpa mengalami perubahan struktur dan tidak diekskresikan dalam feses
  2. substrat yang selektif untuk satu atau sejumlah mikroflora yang menguntungkan dalam kolon, jadi memicu pertumbuhan bakteria
  3. mampu merubah mikroflora kolon menjadi komposisi yang menguntungkan kesehatan
Sinbiotik (Eubiotik) adalah kombinasi probiotik dan prebiotik. Penambahan mikroorganisme hidup (probiotik) dan substrat (prebiotik) untuk pertumbuhan bakteri misalnya fructooligosaccharide (FOS) dengan bifidobacterium atau lactitol dengan lactobacillus. Keuntungan dari kombinasi ini adalah meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang spesifik telah tersedia untuk fermentasi sehingga tubuh mendapat manfaat yang lebih sempurna dari kombinasi ini. - See more at: http://staypublichealth.blogspot.com/2012/02/pengertian-probiotik-prebiotik-dan.html#sthash.YvP7GKvG.dpuf
Probiotik adalah bakteri hidup yang diberikan sebagai suplemen makanan yang mempunyai pengaruh menguntungkan pada kesehatan pada manusia dan binatang, dengan memperbaiki keseimbangan mikroflora intestinal. Mikroflora yang digolongkan sebagai probiotik adalah yang memproduksi asam laktat terutama dari golongan Lactobacilli dan Bifidobacteria.

Probiotik yang efektif harus memenuhi beberapa kriteria :
1) memberikan efek yang menguntungkan pada host, 2) tidak patogenik dan tidak toksik, 3) mengandung sejumlah besar sel hidup, 4) mampu bertahan dan melakukan kegiatan metabolisme dalam usus, 5) tetap hidup selama dalam penyimpanan dan waktu digunakan, 6) mempunyai sifat sensori yang baik, 7) diisolasi dari host.

Efek kesehatan yang menguntungkan dari probiotik adalah :

1) memperbaiki keluhan malabsorsi laktosa, 2) meningkatkan ketahanan alami terhadap infeksi di usus, 3) supresi kanker, 4) mengurangi kadar kholesterol darah, 5) memperbaiki pencernaan, 6) stimulasi imunitas gastrointestinal.

Prebiotik adalah nondigestible food ingredient yang mempunyai pengaruh baik terhadap host dengan memicu aktivitas, pertumbuhan yang selektif, atau keduanya terhadap satu jenis atau lebih bakteri penghuni kolon. Prebiotik pada umumnya adalah karbohidrat yang tidak dicerna dan tidak diserap, biasanya dalam bentuk oligosakarida dan serat pangan.

Food ingredient yang diklasifikasikan sebagai prebiotik harus :

  1. tidak dihidrolisa dan tidak diserap dibagian atas traktus gastrointestinal sehingga dapat mencapai kolon tanpa mengalami perubahan struktur dan tidak diekskresikan dalam feses
  2. substrat yang selektif untuk satu atau sejumlah mikroflora yang menguntungkan dalam kolon, jadi memicu pertumbuhan bakteria
  3. mampu merubah mikroflora kolon menjadi komposisi yang menguntungkan kesehatan
Sinbiotik (Eubiotik) adalah kombinasi probiotik dan prebiotik. Penambahan mikroorganisme hidup (probiotik) dan substrat (prebiotik) untuk pertumbuhan bakteri misalnya fructooligosaccharide (FOS) dengan bifidobacterium atau lactitol dengan lactobacillus. Keuntungan dari kombinasi ini adalah meningkatkan daya tahan hidup bakteri probiotik oleh karena substrat yang spesifik telah tersedia untuk fermentasi sehingga tubuh mendapat manfaat yang lebih sempurna dari kombinasi ini. - See more at: http://staypublichealth.blogspot.com/2012/02/pengertian-probiotik-prebiotik-dan.html#sthash.YvP7GKvG.dpuf

Cara Formulasi Pakan dengan Metode Trial and Error

Pagi, teman2.. haha,, lagi-lagi.. maksudnya menulis di pagi hari..

Formulasi, apa itu.. ya artinya melakukan perhitungan dengan formula yang kita miliki.. Nah,, Formulasi pakan berarti disini kita akan membuat formula dari bahan pakan yang dapat kita sediakan,

Dan Trial and Error,, yang berarti kita ingin mendapatkan formula pakan sesuai dengan kebutuhan nutrient berdasarkan metode coba-coba. Metode ini merupakan metode yang paling sederhana yang dapat kita lakukan dalam formulasi pakan.

Adapun point-point yang kita lakukan yaitu :

1. Tujuan yang ingin di capai??
Apa sih yang ingin dicapai dulu,, misalnya ingin membuat formula pakan ayam broiler starter, ataukah formula pakan sapi potong, gak mungkin dong, ngitung semau-maunya,, hhe...
Nah,, dalam menentukan kebutuhan kita dapat menggunakan standar NRC, Lesson and Summer, ataupun berdasarkan SNI.. tinggal teman-teman pilih sendiri, atau bahakan teman-teman punya standar tersendiri berdasarkan pengalaman.

2. Tentukan Bahan Pakan yang akan digunakan
Setelah kebutuhan nutrient di dapatkan, dengan bahan baku yang tersedia dan bisa kita dapat di lingkungan kita, sekarang kita tentukan bahan baku yang akan kita gunakan.

3. Masukan kandungan nutrient per Bahan baku
Jangan lupa,, kita masukkan dong kandungan nutrient dari bahan baku yang kita gunakan, masa mau nyusun formula pakan tapi gak tau berapa nutrient yang terkandung, hehe
Contoh komposisi nutrient dan harga bahan baku pakan unggas

4. Buat model Trial and Errornya

 Nah, kita buat tabel seperti gambar di atas, sebagai model excel menyusun bahan pakan.

5, Masukkan rumus pada kolom dibawah harga dan tarik ke semua bagian

Oke,, siap berformulasi..

Nah.. Di bawah ini saya berikan contoh excel yang sudah jadi dan tinggal teman-teman gunakan untuk berformulasi..

Free download form Excel Trial and Error Method

Oke,, Silahkan melakukan formulasi.. Semoga membantu..

Metode Cara Pembuatan Pakan Unggas

Sebelum kita meracik, meramu, mencampur, dan membuat pakan unggas khususnya ayam kampung perlu mengetahui metode cara pembuatan pakan unggas terlebih dahulu. Metode ini digunakan untuk menghitung kadar atau nutrisi yang terkandung dalam pakan ayam kita. Dengan berlandaskan teori tersebut diharapkan bahwa ayam kampung kita mendapatkan nutrisi cukup dan seimbang dengan kebutuhannya setiap hari. Dan pada akhirnya mendapatkan hasil ransum murah, mudah, efektif dan efisien yaitu kualitas pakan itu sendiri.
Dalam artikel ini kami mencoba belajar tentang metode untuk digunakan dalam pembuatan pakan murah berkualitas. Langkah ini digunakan pula oleh beberapa produsen pakan unggas komplit yang terus mengembangkan cara dan metode dalam pencampuran serta pembuatan pakan unggas.


Tujuan
1. Menemukan formulasi tepat agar penggunaan bahan pakan tidak melampaui batas. Kenapa penggunaan bahan pakan harus dibatasi? Lihat alasannya di batasan penggunaan bahan pakan unggas.
2. Menentukan harga yang harus dikeluarkan dengan tujuan menghemat biaya produksi
3. Membuat pakan berkualitas yaitu memenuhi standar ketercukupan gizi ayam itu sendiri. 
Kebutuhan nutrisi ayam kampung sudah kami tulis pada kebutuhan nutrisi ayam kampung.
4. Menentukan pakan berdasar umur. 
Seperti kita tahu bahwa jenis pakan dapat dibedakan menurut bentuk dan fungsi pada umur ayam. Jenis pakan berdasar umur tertulis pada jenis pakan ayam kampung berdasar umur.
Berdasarkan tujuan tersebut dapat kita simpulkan untuk komposisi pakan ayam kampung bermutu. Adapun metode cara pembuatan pakan adalah sebagai berikut :

Cara Manual
Pembuatan pakan dengan cara manual adalah penghitungan dengan cara menyusun dari beberapa bahan pakan, kemudian ditentukan jumlahnya dengan cara menghitung di atas kertas. Kelebihan menggunakan cara ini adalah kemudahan dan kemurahan menentukan dalam menyusun pakan. Kekurangan cara ini adalah kurang bisa diteliti dari segi nutrisi dan harga. Metode yang sering digunakan adalah metode pearson square dan metode aljabar. Mari kita bahas!

A. Metode Pearson Square
Meode pearson square adalah metode yang digunakan untuk menjumlahkan kandungan salah satu kebutuhan nutrisi apabila dicampur dengan dua atau lebih bahan pakan. Dengan memperhatikan kandungan nutrisi terkandung di dalamnya kemudian dianalisa berapa harus kita perlukan. Contoh sebagai berikut :
metode pearson square

metode pearson square
metode pearson square

metode pearson square


  
B. Metode Aljabar
Penggunaan metode aljabar yaitu penghitungan secara matematika bila mengetahui 1 bahan pakan kemudian akan dicampur apa agar bisa memenuhi kandungan nutrisi tersebut. Contoh sebagai berikut :
metode aljabar
Cara Komputersiasi
Cara komputerisasi adalah cara meracik bahan pakan dalam % kemudian memasukkan data untuk dianalisa oleh komputer. Cara ini relatif lebih cepat namun membutuhkan biaya tidak murah. Sofware untuk pembuatan pakan berkualitas ini dibandrol dengan harga Rp. 6.000.000,-. Sungguh merupakan investasi bukan? Namun cara komputerisasi ini dapat kita gunakan dengan exel.

Nah bagi teman-teman yang sudah memiliki metode pembuatan pakan dengan exel sekiranya berbagi buat kami. Akhir kata salam sukses peternak ayam Indonesia.

sumber : http://www.ternakayamkampung.com/2012/11/metode-cara-pembuatan-pakan-unggas.html

CARA MENGHITUNG FORMULA PAKAN

CARA MENGHITUNG FORMULA PAKAN

Akhirnya baru bisa posting sekarang, keinginan rekan peternak untuk bisa menghitung nilai gisi ransum pakan, yang begitu menggebu. Merangsang gairah untuk segera membuat draff. Rasa haus akan ilmu dari rekan peternak mirip keingin tahuan para jenius dalam menemukan satu keilmuan baru. Mengagumkan………

Dalam penyusunan ransum pakan, kaidah-kaidah tertentu wajib untuk di perhatikan.
Jadi ndak bisa seenaknya, harus melalui tahap demi tahap. Metode menghitung ada bermacam cara, tapi saya akan focus pada metode Trial and error

Prinsip metode trial and error atau teori coba-coba, ini adalah teori yang paling mudah di terapkan oleh kebanyakkan peternak. Mengumpulkan alternative bahan pakan yang akan diramu, mengetahui kandungan nilai gisi dan mencobanya pada satu formula yang telah di tentukan sebelumnya, nilai gisinya, sebagai target.

Di sini yang saya kemukakan Cuma yang penting-penting saja, untuk kalangan akademik kemungkinn kurang sreg dengan cara paparan saya, terlalu simple dan terasa kurang keren atau kurang ilmiah. Tapi untuk khalayak umum atau peternak yang pragmatis praktis kemungkinan lebih di sukai, langsung pada pokok persoalan, ndak berbelit-belit, muter-muter lama dulu baru ke inti tujuan.

Baiklah…siap-siap konsentrasi untuk menyerap ilmu, Bismillah………


                 ANALISIS KIMIA BAHAN-BAHAN PAKAN

JAGUNG :
ME : 3360 Kcal/kg, AIR : 10-13%, CRUDE PROTEIN : 9%, LEMAK : 4,1%,
SERAT KASAR : 2,2%, Ca : 0,02%, : 0,29%

KATUL JAGUNG :
ME : 3300 Kcal/kg, AIR : 10-13%, CRUDE PROTEIN : 9,7%, LEMAK : 7,2%,
SERAT KASAR : 6,8%, Ca : 0,03%, P : 0,27%

KATUL :
ME : 1850 Kcal/kg, AIR : 11,7%, CRUDE PROTEIN : 10,1%, LEMAK : 4,9%,
SERAT KASAR : 15,3%, Ca : 0,08%, P : 1,36%

BEKATUL :
ME : 2700 Kcal/kg, AIR : 11%, CRUDE PROTEIN : 13,6%, LEMAK : 8,2%,
SERAT KASAR : 8%, Ca : 0,03%, P : 1,18%

TEPUNG IKAN :
ME :
 3000 Kcal/kg, AIR : 7,7%, CRUDE PROTEIN : 61,8%, LEMAK : 7,8%
SERAT KASAR : 0,6%, Ca : 4,96%, P : 3,10%



KONSENTRAT 124 POKPHAND :
ME : 2500 Kcal/kg, AIR : 13%, CRUDE PROTEIN : 30-32%, LEMAK : 3-5%,
SERAT KASAR : 6-8%, Ca : 3-4%, P : 1-1,5%

BR-I :
ME : 3000 Kcal/kg, AIR : 5-7%, CRUDE PROTEIN : 20-21%, LEMAK : 5-8%,
SERAT KASAR : 3-5%, Ca : 0,9-1,1%, P : 0,7-0,9%

521 :
ME : 2950 Kcal/kg, AIR : 13%, CRUDE PROTEIN : 19-20%, LEMAK : 3%,
SERAT KASAR : 5%, Ca : 0,9%, P : 0,6%

PAR-S :
ME : 2800 Kcal/kg, AIR : 12%, CRUDE PROTEIN : 18,5%, LEMAK : 3%,
SERAT KASAR : 6%, Ca : o,9%, P : 0,6%

KONSENTRAT KIP-333 WONOKOYO :

ME : 2500 Kcal/kg, AIR : 13%, CRUDE PROTEIN : 38-40%, LEMAK : 5-7%,
SERAT KASAR : 8%, Ca : 4-8%, P : 1-2%

Ini sebagian kecil bahan-bahan pakan yang sering di gunakan, tapi sebenarnya masih banyak lagi bahan lain yang masih bisa di masukan. Harus di cari bahan pakan yang mudah dan banyak stock di daerah masing-masing. Oke…sekarang berlomba mencari bahan pakan alternative local…..kalau bisa usahakan menghapal kandungan nutrisi bahan-bahan pakan di atas, biar lebih cepat nanti menghitungnya….


                      ZAT-ZAT YANG DI PERLUKAN

Untuk ayam tipe petelur : 
Umur ayam 0 – 8 minggu :
EM : 2700-3000 Kcal/kg, CRUDE PROTEIN : 20-22%, LEMAK : 4%,
SERAT KASAR : 4-6%, Ca : 1%, P : 0,7%

Umur ayam 9 – 16 minggu :
EM : 2600-2900 Kcal/kg, CRUDE PROTEIN : 14-16%, LEMAK : 4%,
SERAT KASAR : 7-9%, Ca : 1%, P : 0,6%

Umur ayam 17 minggu – afkir :
EM : 2650-2950 Kcal/kg, CRUDE PROTEIN : 17-18%, LEMAK : 5%,
SERAT KASAR : 6-8%, Ca : 2,5-3,5%, P : 0,5-0,6%.



Untuk ayam tipe pedaging :

Umur ayam 0 – 4 minggu :
EM : 
3000 – 3100 Kcal/kg, CRUDE PROTEIN : 21- -23%, LEMAK : 4-6%,
SERAT KASAR : 4%, Ca : 0,9%, P : 0,5%

Umur ayam 4 minggu – panen :
EM : 
3100 – 3200 Kcal/kg, CRUDE PROTEIN : 19 – 21%, LEMAK : 4-6%
SERAT KASAR : 4%, Ca : 0,9%, P : 0,5%.

Inilah nilai gisi nutrisi pakan yang kita jadikan accuan atau target dalam menyusun formula pakan ayam pedaging atau petelur.


                        RUMUS TRIAL AND ERROR

R
umus ini dapat dipergunakan untuk menghitung nilai gisi nutrisi semua bahan pakan ransum ayam maupun hewan Ruminansia. Nilai nutrisi EM( energy metabolism),
CP( crude protein ), FAT( lemak ), SK( serat kasar ), Ca( kalsium ), P( phosphor )

Jumlah kg bahan pakan( BP ) : Jumlah total kg bahan pakan( BPT ) x Nilai gisi nutrisi bahan pakan yang di hitung( NBP ) = Nilai nutrisi( NN )
Ini artinya menjadi : BP : BPT x NBP = NN 


                      MENGHITUNG FORMULA PAKAN


Ingat pergunakan rumus BP : BPT x NBP = NN, istilah-istilah pada rumus inicoba untuk di hapaldan di ingat-ingat, jangan sampai lupa, Cuma sedikit….

Misalnya kita menghitung bahan pakan di bawah ini :
Jagung : 30 kg
bekatul : 37 kg
Sentrat 124 : 33 kg

Total jumlah pakan yang di hitung 100 kg(BPT)
Coba untuk di hitung kandungan EM dan CP(crude protein) ayo…semangat……

Jagung :
30 : 100 x 3360 Kcal = 1008 Kcal/kg, ini nilai EM/karbohidrat jagung
30 : 100 x 9% = 2,7%, ini nilai CP/protein

Bekatul :
37 : 100 x 2700 Kcal/kg = 999 Kcal/kg, ini nilai EM/karbohidrat bekatul
37 :100 x 13,6% = 5,03%, ini nilai CP/protein bekatul



Sentrat 124 :
33 kg : 100 kg x 2500 Kcal/kg = 826 Kcal/kg, ini nilai EM/karbohidrat sentrat 124
33 kg : 100 kg x 31% = 10,23%, ini nilai CP/protein sentrat 124

Nilai CP/protein sentrat 124 di ambil rata-rata/tengah-tengahnya, ini berlaku untuk semua bahan pakan yang nilai gisi nutrisi nominal di antara tiga angka.

Nah sekarang tinggal menjumlahkan nilai nutrisinya saja, sudah jadi, mudah tho…
Jadi nilai nutrisi formula pakan di atas sbb :

CP/crude protein total = 2,7% + 5,03% + 10,23% = 17,96%

EM//karbohidrat total = 1008 Kcal + 999 Kcal + 826 Kcal = 2833 Kcal/kg

Untuk ransum ayam masa produksi/bertelur ini sudah memenuhi target.
Untuk penghitungan lemak, serat kasar, Ca dan P caranya sama saja. Untuk lebih melancarkan dalam menghitung harus sering berlatih dan berlatih semangat…..
Sbr bumiternak-betha.blogspot.com

Pelleting

Pengolahan Pakan secara Pelleting (Pembuatan Pellet)

 

Pelleting merupakan salah satu metode pengolahan pakan secara mekanik yang banyak diterapkan di industri pakan unggas, khususnya ayam. Ayam merupakan ternak yang bersifat selektif terhadap pakan, yaitu cenderung memilih bahan pakan yang disukai. Ayam menyukai pakan berbentuk biji-bijian (grains) terkait dengan morfologi sistem pencernaannya, yaitu memiliki paruh untuk mematuk dan gizzard sebagai lokasi pencernaan secara mekanik. 

Apabila pakan disediakan dalam bentuk mash yang terdiri atas tepung dan biji-bijian, ayam akan memilih biji-bijiannya saja sehingga konsumsi pakan tidak sesuai dengan kebutuhan nutrien. Hal ini dapat dihindari dengan mengolah pakan menjadi bentuk yang mudah dikonsumsi dan disukai ayam, yaitu menjadi bentuk pellet. Selain mudah dikonsumsi oleh ayam, pellet juga mencegah perilaku ayam yang selektif terhadap bahan pakan.  

Pengolahan pakan menjadi bentuk pellet (pelleting) memiliki sejumlah keuntungan, antara lain meningkatkan konsumsi dan efisiensi pakan, meningkatkan kadar energi metabolis pakan, membunuh bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan yang tercecer, memperpanjang lama penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin (Patrick dan Schaible, 1979). Stevent (1981) menjelaskan lebih lanjut keuntungan pakan bentuk pellet adalah meningkatkan densitas pakan sehingga mengurangi keambaan atau sifat bulky, dengan demikian akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer. Selain itu, pellet juga memerlukan lebih sedikit tempat penyimpanan dan biaya transportasi jika dibandingkan dengan bahan-bahan pakan penyusun pellet. 
 

Pengolahan pakan menjadi bentuk pellet (pelleting) memiliki sejumlah keuntungan, antara lain meningkatkan konsumsi dan efisiensi pakan, meningkatkan kadar energi metabolis pakan, membunuh bakteri patogen, menurunkan jumlah pakan yang tercecer, memperpanjang lama penyimpanan, menjamin keseimbangan zat-zat nutrisi pakan dan mencegah oksidasi vitamin (Patrick dan Schaible, 1979). Stevent (1981) menjelaskan lebih lanjut keuntungan pakan bentuk pellet adalah meningkatkan densitas pakan sehingga mengurangi keambaan atau sifat bulky, dengan demikian akan meningkatkan konsumsi pakan dan mengurangi pakan yang tercecer. Selain itu, pellet juga memerlukan lebih sedikit tempat penyimpanan dan biaya transportasi jika dibandingkan dengan bahan-bahan pakan penyusun pellet. 



Kualitas Pellet

Durabilitas pellet yang tinggi berarti pellet tidak mudah hancur

            Kualitas pellet merupakan aspek yang penting baik bagi produsen pakan maupun peternak. Kualitas pellet ditentukan dengan durabilitas, kekerasan (hardness) dan ukuran. Kualitas pellet yang baik membutuhkan konsekuensi bagi produsen pakan, yaitu berupa tingginya biaya produksi, tingginya energi dan modal yang dibutuhkan. Bagi peternak unggas, kualitas pellet yang baik akan menghasilkan konversi pakan yang rendah, pertambahan bobot badan yang tinggi, dan meminimalkan pakan yang terbuang (Stark, 2006). Menurut Behnke (1994), faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pellet adalah formulasi (pengaruhnya sebesar 40%), conditioning (20%), ukuran partikel (20%), spesifikasi die (cetakan) dari mesin pellet (15%), dan pendinginan (5%).

Pemberian pakan berbentuk pellet saja tidak cukup untuk memperbaiki performans. Performans yang baik dapt dihasilkan dari pellet yang berkualitas baik pula, dalam hal ini adalah kualitas bahan yang digunakan dan bentuk fisik pelletnya. Hail penelitian menunjukkan bahwa FCR meningkat sebesar 2,4% saat ayam broiler diberi ransum kombinasi dari 75% pellet dan 25% tepung apabila dibandingkan dengan ayam yang diberi 25% pellet dan 75% tepung (Schleider, 1991 dalam  Briggset al, 1999).

            Pengaruh tekanan uap menjadi kontroversi dalam industri pakan. Stevens (1987) meneliti tentang pengaruh tekanan uap terhadap kualias pellet (20 dan 80 psig) tetapi tidak berpengaruh signifikan terhadap durabilitas pellet maupun laju produksi. Ukuran partikel juga diteliti. Tidak ada perbedaan durabilitas yang signifikan antara  pellet yang kasar  (1,023 Î¼), medium (794 Î¼), atau halus (551 Î¼). Durabilitas pellet meningkat dengan peningkatan partikel halus seperti gandum (72,4%) dan tepung kedelai (20,0%). Efisiensi penggilingan pellet menurun dengan penurunan ukuran partikel hingga 12%. 

            Bahan pakan yang digunakan menentukan kualitas pellet secara signifikan. Menurut Wood (1987), pengaruh protein mentah dan terdenaturasi serta pati jagung mentah dan terdenaturasi sangat mempengaruhi durabilitas dan kekerasan pellet. Pakan yang terbuat dari isolat protein kedelai dan jagung dijadikan pellet dengan dan tanpa steam conditioning. Pregelatinisasi dan denaturasi protein menghasilkan PDI (pellet durability index) 70 sedangkan PDI pellet berbahan dasar mentah hanya sebesar 19. Menurut Winowiski (1988), peningkatan jumlah gandum meningkatkan PDI dari 32 menjadi 73, selain itu juga secara keseluruhan meningkatkan kandungan protein pellet. Stevens (1987) membandingkan durabilitas pellet yang mengandung 72,4% gandum dan 72,4% jagung. Ternyata pellet yang mengandung 72,4% gandum memiliki PDI 7 poin lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa protein berperan penting bagi peningkatan durabilitas pellet. Namun perusahaan pakan pada umumnya menekankan pada penggunaan gelatin pati untuk meningkatkan durabililitas pellet karena pati lebih murah daripada  protein.

            Dikatakan bahwa gelatinisasi pati disebabkan oleh penguapan (steam conditioning), tetapi hasil Stevens (1987) tentang gelatinisasi dalam 100% ransum berbahan dasar jagung justru membuktikan fakta yang berkebalikan dengan opini umum. Menurut Stevens (1987), 58,3% pati tergelatinisasi saat ransum mengalami proses pelleting kering dan 25,9% pati tergelatinisasi saat ransum mengalami steam conditioning hingga 80oC. Dari hasil penelitian tersebut diduga bahwa proses shearing secara mekanik dalam die (cetakan) alat pellet menyebabkan panas sehingga terjadi gelatinisasi. Efek pembasahan dari uap menurunkan panas dalam die sehingga menurunkan gelatinisasi. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian Heffner dan Pfost (1973) dan Skoch et al. (1981) yang dikutip oleh Briggs et al. (1999) bahwa gelatinisasi timbul sebanyak 10  - 12% pada proses pelleting akibat steam conditioning. Kedua penelitian tersebut menggunakan metode ekuivalensi pati. Stevens (1987) tidak meneliti tentang jumlah gelatinisasi pati akibat conditioning, tetapi menggunakan bahan dasar jagung tinggi minyak. Sebagai perbandingan, jagung biasa hanya mengandung 3,5% sedangkan jagung tinggi minyak mengandung 6,8% yang berbasis pada 100% bahan kering. Richardson dan Day (1976) dalam Briggs et al. (1999) menunjukkan bahwa penambahan lemak di atas 2% dari pakan finisher broiler berbahan jagung-kedelai menghasilkan partikel penyusun pellet yang halus dan nilai PDI yang rendah. Meskipun menurunkan kualitas pellet, penelitian lebih lanjut sangat diperlukan untuk mengevaluasi pengaruh jagung tinggi minyak terhadap pelletability (kemampuan bahan untuk diproses menjadi pellet).

          Bungkil kedelai yang diolah secara mekanik (mechanically expelled soybean meal) juga merupakan bahan pakan tinggi minyak. Dibandingkan dengan bungkil kedelai yang diolah dengan ekstraksi solvent (solvent-extracted soybean meal), bungkil kedelai mekanik mengandung 5% minyak lebih banyak sehingga banyak digunakan dalam industri pakan. Bungkil kedelai jenis ini menghasilkan pellet dengan kepadatan  tinggi, artinya durabilitas lebih tinggi sehingga  tidak mudah hancur saat pengangkutan (Briggs et al., 1999).


Proses Pembuatan Pellet



Ada dua cara yang dapat ditempuh dalam pembuatan pakan berbentuk pellet, yaitu secara manual dan atau dengan menggunakan mesin (feedmill). Pembuatan pakan secara manual dilakukan dengan menggunakan alat-alat yang sederhana. Alat yang dipergunakan adalah sekop (paddle) atau drum yang dirancang dengan mengunakan prinsip kerja mixer (Pujaningsih, 2011).

Cara yang kedua dengan menggunakan mesin. Mesin pembuat pakan ini terdiri atas mesin-mesin penggiling (hammer mill), mesin penimbang (weigher), mesin pemusing (cyclone), mesin pengangkat/pemindah bahan (auger, elevator), mesin penghembus (blower), mesin pencampur (mixer), dan mesin pembuat pellet. Untuk pembuatan pellet menggunakan alat blower, boiler, mash bin, cooler, die, screw conveyor, mixer, vibrator dan transporter



Proses pengolahan pellet terdiri dari 3 tahap, yaitu pengolahan pendahuluan, pembuatan pellet dan perlakuan akhir.

a. Proses pendahuluan

            Proses pendahuluan bertujuan untuk pemecahan dan pemisahan bahan-bahan pencemar atau kotoran dari bahan yang akan digunakan. Setelah seluruh bahan baku disiapkan, tahap selanjutnya adalah menggiling bahan baku tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan ukuran partikel yang seragam--berbentuk tepung (mash). Peralatan yang digunakan adalah mesin penggiling atau penghalus yang bisa digerakkan motor listrik atau motor bakar yang bahan bakarnya bisa berupa bensin atau solar. Alat ini dikenal dengan nama disk mill dan hammer mill.

Bahan baku berupa jagung kuning, dedak, bungkil kedelai dan bungkil kelapa digiling halus. Sementara itu, tepung ikan tidak perlu digiling lagi karena bahan baku ini sudah dalam bentuk tepung. Lain halnya jika menggunakan ikan lokal yang sudah dikeringkan, tetapi belum digiling menjadi tepung. Dengan membuat bahan baku menjadi partikel yang lebih kecil, laju oksidasi kemungkinan bisa berlangsung lebih cepat. Untuk itu diperlukan cara untuk menekan laju oksidasi, yakni dengan menambahkan antioksidan ke dalam bahan tepung tersebut, baik saat penggilingan maupun setelah menjadi tepung.

Seluruh bahan yang telah digiling ditimbang dengan menggunakan timbangan duduk. Selanjutnya, bahan–bahan tersebut dicampurkan. Pencampuran bisa menggunakan berbagai macam mesin pengaduk (mixer), tipe vertikal, tipe horisontal, drum mixer dan mixer yang biasa digunakan untuk mengaduk beton atau beton molen. Pencampuran bahan – bahan baku pakan bisa juga digunakan secara manual dengan menggunakan cangkul atau sekop dan beralaskan papan.

Untuk bahan baku dengan jumlah sedikit, terlebih dahulu dilakukan pre-mixing atau pencampuran awal. Bahan yang dicampur pada tahap awal meliputi vitamin, mineral, kalsium karbonat, asam amino kristal, pemacu pertumbuhan, koksidiostat dan antioksidan. Penimbangan bahan – bahan ini harus dilakukan dengan timbangan yang mempunyai tingkat ketelitian tinggi.
Minimal diperlukan waktu 15 menit untuk mencampur bahan pakan dengan menggunakan mesin pencampur jenis beton molen supaya diperoleh campuran yang merata. Apabila digunakanmixer horisontal, diperlukan waktu pencampuran lebih singkat.

Tahap akhir pencampuran adalah menambahkan bahan baku cairan, yaitu minyak kelapa dengan menggunakan sprayer atau penyemprot sambil terus dilakukan pengadukan. Jika dalam formula pakan diperlukan bahan baku cair, sebaiknya alat yang digunakan berupa beton molen. Beton molen ini umumnya mempunyai dua kapasitas volume. Ini berbeda halnya dengan mixerjenis lain yang mempunyai kapasitas beragam, hingga 1.000 kg campuran pakan setiap kali pengadukan (Pujaningsih, 2011).

b. Pembuatan pellet

Pembuatan pellet terdiri dari proses pencetakan, pendinginan dan pengeringan. Perlakuan akhir terdiri dari proses sortasi, pengepakan dan pergudangan. Proses penting dalam pembuatan pellet adalah pencampuran (mixing), pengaliran uap (conditioning), pencetakan (extruding) dan pendinginan (cooling).

Proses conditioning adalah proses pemanasan dengan uap air pada bahan yang ditujukan untuk gelatinisasi agar terjadi perekatan antar partikel bahan penyusun sehingga penampakan pellet menjadi kompak, durasinya mantap, tekstur dan kekerasannya bagus. Proses conditioningditujukan untuk gelatinisasi dan melunakkan bahan agar mempermudah pencetakan. Disamping itu juga bertujuan untuk membuat pakan menjadi steril, terbebas dari kuman atau bibit penyakit; menjadikan pati dari bahan baku yang ada sebagai perekat; pakan menjadi lebih lunak sehingga ternak mudah mencernanya; menciptakan aroma pakan yang lebih merangsang nafsu makan ternak.

Proses conditioning dilakukan dengan bantuan steam boiler yang uapnya diarahkan ke dalam campuran pakan. Apabila penguapan dilakukan dengan mixer jenis beton molen, proses penguapan dilakukan sambil mengaduk campuran pakan tersebut. Penguapan tidak boleh dilakukan di atas suhu yang diizinkan, yaitu sekitar 80°C. Pengukusan dengan suhu terlalu tinggi dalam waktu yang lama akan merusak atau setidaknya mengurangi kandungan beberapa nutrisi dalam pakan, khususnya vitamin dan asam amino. Dalam proses pembuatan pakan ayam ras pedaging, penguapan tidak mutlak diperlukan. Selama proses kondisioning terjadi penurunan kandungan bahan kering sampai 20% akibat peningkatan kadar air bahan dan menguapnya sebagian bahan organik. Proses kondisioning akan optimal bila kadar air bahan berkisar 15 – 18%.

Sistem kerja mesin pencetak sederhana adalah dengan mendorong bahan campuran pakan di dalam sebuah tabung besi atau baja dengan menggunakan ulir (screw) menuju cetakan (die) berupa pelat berbentuk lingkaran dengan lubang – lubang berdiameter 2 – 3 mm, sehingga pakan akan keluar dari cetakan tersebut dalam bentuk pellet. Kelemahan sistem ini adalah diperlukannya tambahan air sebanyak 10 – 20% ke dalam campuran pakan, sehingga diperlukan pengeringan setelah proses pencetakan tersebut. Penambahan air dimaksudkan untuk membuat campuran atau adonan pakan menjadi lunak, sehingga bisa keluar melalui cetakan. Jika dipaksakan tanpa menambahkan air ke dalam campuran, mesin akan macet. Di samping itu, pellet yang keluar dari mesin pencetak biasanya kurang padat. 
Berbeda dengan mesin sederhana, sistem kerja mesin yang biasa digunakan di industri pakan adalah dengan cara menekan atau menggiling bahan baku pakan dengan menggunakan roda baja (roller) pada cetakan (die). Pellet yang keluar dari cetakan tersebut kepadatannya sangat baik.

die (cetakan pellet) tipe ring (kiri) dan flat (kanan)



Proses Conditioning

Selama proses conditioning  terjadi peningkatan suhu dan kadar air dalam bahan sehingga perlu dilakukan pendinginan dan pengeringan. Proses pendinginan (cooling) merupakan proses penurunan temperatur pellet dengan menggunakan aliran udara sehingga pellet menjadi lebih kering dan keras. Proses ini meliputi pendinginan butiran-butiran pellet yang sudah terbentuk, agar kuat dan tidak mudah pecah. Pengeringan dan pendinginan dilakukan pada tahap ini untuk menghindarkan pellet itu dari serangan jamur selama penyimpanan 
Pengeringan pada intinya adalah mengeluarkan kandungan air di dalam pakan menjadi kurang dari 14%, sesuai dengan syarat mutu pakan ternak pada umumnya. Proses pengeringan perlu dilakukan apabila pencetakan dilakukan dengan mesin sederhana. Jika pencetakan dilakukan dengan mesin pellet sistem kering, cukup dikering anginkan saja hingga uap panasnya hilang, sehingga pellet menjadi kering dan tidak mudah berubah kembali ke bentuk tepung.

Proses pengeringan bisa dilakukan dengan penjemuran di bawah terik sinar matahari atau menggunakan mesin. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan. Penjemuran secara alami tentu sangat tergantung kepada cuaca, higienitas atau kebersihan pakan harus dijaga dengan baik, jangan sampai tercemar debu atau kotoran dan gangguan hewan atau unggas yang dikhawatirkan akan membawa penyakit. Jika alat yang digunakan mesin pengering, tentu akan memerlukan biaya investasi dan biaya operasional yang cukup tinggi.

c. Perlakuan akhir

Penentuan ukuran pellet disesuaikan dengan jenis ternak. Dinyatakan dalam Pasifik (1981) bahwa diameter pellet untuk sapi perah dan sapi pedaging adalah 1,9 cm (0,75 inci), untuk anak babi 1,5 cm (0,59 inci) dan babi masa pertumbuhan 1,6 cm (0,62 inci), untuk ayam pedaging periode starter dan finisher 1,2 cm (0,48 inci). Garis tengah pellet untuk pakan dengan konsentrasi protein tinggi adalah 1,7 cm (0,67 inci) dan 0,97 cm (0,38 inci) untuk pakan yang mengandung urea.




Referensi


Behnke, K.C. 1994. Factors Affecting Pellet Quality. Maryland Nutrition Conference, Department of Poulty Science and Animal Science, University of Maryland.

Briggs, J.L. D.E. Maier, B.A. Watkins, dan K.C. Behnke. 1999. Effect of ingredients and processing parameters on pellet quality.

Pujaningsih, R. I. 2011. Teknologi Pengolahan Pakan. Modul kuliah. Universitas Diponegoro, Semarang. 

Stevens, C. A. 1987. Starch gelatinization and the influence of particle size, steam pressure and die speed on the pelleting process. Ph.D.Dissertation. Kansas State University, Manhattan, KS.

Winowiski. 1988. Wheat and pellet quality.
  http://lintangrinastiti.blogspot.com/2013/06/pengolahan-pakan-secara-pelleting.html

SILO SILASE / TEMPAT TERJADINYA PROSES SILASE



Bahan silo bisa menggunakan drum plastic, plastic meteran tebal atau terpal berlapis plastic yang di tanam dalam lobang tanah. Intinya udara tidak boleh masuk dan air hujan tidak boleh merembes hingga membasahi isi silo yang mengakibatkan proses pembusukan.

Bahan silase :
limbah daun kacang kacangan, daun leguminosa, rumput, daun tebu atau semua hijau daun bisa dip roses  system silase.

Bahan pengawet :
molasses /tetes ; 2,5 liter/ 100 kg bahan
Dedak : 5 kg/100 kg bahan
Tepung jagung : 3,5 kg/ 100 kg bahan
Onggok : 2,5 kg/ 100 kg bahan
Ampas sagu : 7 kg/ 100 kg bahan

PEMBUATAN SILASE

1. Bahan hijau daun di potong ptong sepanjang 5 cm, secara bertahap masukan dalam silo, setelah sebelumnya sedikit di basahi air, lalu masukan bahan pengawet, masukan lagi bahan silase , injak injak hingga memadat, lalu masukan lagi bahan pengawet , beri bahan silase lagi , injak injak hingga padat, begitu seterusnya hingga bahan silase dan bahan pengawet habis ,lalu tutup rapat agar udara dan sinar matahari tidak bisa menembus dalam silo

Jika memake Jerami Fermentasi , EM 4, ( PT )Probitik Top atau ( PSP )Probiotik Semi Plus, dosis pakai 100 kg bahan silase adalah 250-500 ml yang di campurkan pada bahan hijau daun /di basahi sebelum di masukan silo, jika ada kelebihan masukan dalam silo

PENGAMBILAN SILASE

Setelah seminggu atau dua minggu atau 4 minggu silase sudah dapat di ambil, jika ingin di simpan lama dalam hitungan tahun, minimal peram silase 1,5 bulan.

Silase di ambil secukupnya saja, missal untuk stock selama 7 hari, lalu di angin anginkan, setelah itu baru bisa di berikan ke ternak.

Setelah silase di ambil , jangan lupakan proses penutupan silo, yang rapat agar dalam silo bebas O2.

Ciri cirri silase yang baik :
1. Rasa dan bau asam tape caramel
2. Warna hijau dengan sedikit gradasi coklat
3. Tekstur tetap seperti hijau daun
4. Tidak berjamur, tidak berlendir dan tidak menggumpal

HAY SILASE

HAY
Hijauan makanan ternak yang sengaja di potong dan di keringkan agar dapat di berikan pada masa musim kemarau. Tujuan hay adalah : untuk persediaan makanan ternak di musim kering, memanfaatkan hijauan pada saat pertumbuhan terbaik, mendayagunakan hijauan limbah dari tanaman kacang kacangan , sebagai pakan dalam perjalanan lintas Benua.

Prinsip pembuatan hay : menurunkan kadar air menjadi 15-20% dalam waktu singkat dengan panas matahari maupun buatan. Lama pengeringan tergantung sumber panas, kelembaban, fisik hijauan.

Hijauan kasar biasanya lebih lama di keringkan debandingkan yang halus. Tanaman yang telah di potong dari kebun kemudian di keringkan, maka dalam periode pengeringan ini masih terjadi respirasi yang merubah zat pati menjadi glukosa yang akhirnya peca mejadi H2O & CO2, hal inilah yang mengurangi kualitas dari hay.

Untuk menghindari kehilangan zat makanan terlalu banyak, pengeringan harus di lakukan secepat mungkin, penyinaran yang singkat dan jangan sampai kehujanan. Proses kehilangan selanjutnya pada tahap penyimpanan dan pengangkutan, sebab pengangkutan yang kurang hati hati dapat merusak fisik hijauan. Saat penyinaran yang buruk zat makanan yang hilang atau rusak mencapai 50-60%, tapi dalam cuaca yang baik hanya kehilangan 25% saja.

Proses pengeringan

Pengeringan dengan panas buatan :
Biasanya dilakukan di Negara 4 musim atau sub tropis, sebab lamanya penyinaran matahari lebih pendek di bandingkan Negara tropis, dengan suhu pengeringan mencapai 600-800 Celcius. Kelebihannya adalah lebih cepat dan praktis. Kekurangannya adalah perlu biaya dan kehilangan Vit D.

Pengeringan panas matahari :
di jemur di bawa sinar matahari, usahakan daun jangan sampai keriting dan tempat penjemuran di beri alas jangan langsung menyentuh tanah. Tempat menjemur terbaik denan para para.

JERAMI FERMENTASI ATAU AMONIASI JERAMI

BAHAN
Jerami 100 kg
Urea 2 kg
Star bio atau EM4 atau PSP( probiotik semi plus ) 250-500 ml

Urea yang di larutkan dalam air akan menghasilkan NH3/amoniak, berkat adanya enzim Urease dari mikroorganisme yang ada di alam akan mensintesa urea.

Urea di sini setelah menghasilkan NH3 amonia berfungsi :
1. Menghidrolisa ikatan lignin dengan selulosa
2. Menghidrolisa ikatan lignin dengan hemiselulossa
3. Melarutkan sebagian Si ( silica )
4. Mengembangkan serat kasar/selulosa sehingga memudahkan penetrasi enzim selulosa pada saat jerami saat berada dalam rumen
5. Dengan adanya ikatan N dari ammonia akan meningkatkan CP dari jerami padi dan juga meningkatkan TDN daya cerna 30 % dari serat kasar selulosa dalam jerami.

Pembuatan :

1. Jerami di potong potong 5 cm
2. Buat larutan urea dan biang stater di atas + air 5-10 liter, campur jadi satu semua itu
3. Jerami bertahap di masukan dalam wadah sambil di basahi di ciprati air, setahap demi setahap hingga bahan dan larutan habis, lalu ikat atau tutup rapat.

Hasil penelitian, Uji kualitas terbaik ammonia adalah pemakaian urea 6%, masa peram 2 minggu dan kadar air amoniasi jerami adalah 40%. Ini  hasil penelitian Prof Drh Mohammad soejono MSc MS dari Kepala Laboratorium Teknologi Makanan Ternak Fakultas Peternakan UGM.

Fermentasi Hijauan Pakan Ternak (Silase)

Silase adalah hijauan makanan ternak (HMT) yang diawetkan dengan proses ensilasi. Tujuan utama pembuatan silase adalah untuk memaksimumkan pengawetan kandungan nutrisi yang terdapat pada hijauan atau bahan pakan ternak lainnya, agar bisa di disimpan dalam kurun waktu yang lama, untuk kemudian di berikan sebagai pakan bagi ternak. Sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Di banyak negara, hasil ensilasi hijauan segar memiliki nilai ekonomi yang tinggi sebagai pakan ternak. Negara-negara eropa, seperti: Belanda, Jerman dan Denmark memproses hampir 90% hijauan yang dihasilkan dari lahan pertaniannya sebagai bahan makanan ternak dengan teknik ensilasi. (Wilkinson et al., 1996).
Ensilasi adalah metode pengawetan hijauan berdasarkan pada proses  fermentasi asam laktat yang terjadi secara alami dalam kondisi anaerobik. Selama berlangsungnya proses ensilasi, beberapa bakteri mampu memecah selulosa dan hemiselulosa menjadi berbagai macam gula sederhana. Sedangkan bakteri lain memecah gula sederhana tersebut menjadi produk akhir yang lebih kecil (asam asetat, laktat dan butirat). Produk akhir yang paling diharapkan dari proses ensilasi adalah asam asetat dan asam laktat. Produksi asam selama berlangsungnya proses fermentasi akan menurunkan pH pada material hijauan sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme lain yang tidak diinginkan. Proses ensilasi dalam silo/fermentor kedap udara terbagi dalam 4 tahap, yaitu (Weinberg and Muck, 1996; Merry et al., 1997):
a. Tahap I – Fase aerobik.
Tahap ini pada umumnya hanya memerlukan waktu beberapa jam saja, fase aerobik terjadi karena keberadaan oksigen di sela-sela partikel tanaman. Jumlah oksigen yang ada akan berkurang seiring dengan terjadinya proses respirasi pada material tanaman serta pertumbuhan mikroorganisme aerobik dan fakultatif aerobik, seperti khamir dan enterobakteria. Selanjutnya, enzim pada tanaman seperti protease dan carbohydrase akan teraktivasi, sehingga kondisi pH pada tumpukan hijauan segar tetap dalam batas normal (pH 6.5-6,0).
b. Tahap II – Fase fermentasi.
Tahap ini dimulai ketika kondisi pada tumpukan silase menjadi anaerobik, kondisi tersebut akan berlanjut hingga beberapa minggu, tergantung pada jenis dan kandungan hijauan yang digunakan serta kondisi proses ensilasi. Jika proses fermentasi berlangsung dengan sempurna, bakteri asam laktat (BAL) akan berkembang dan menjadi dominan, pH pada material silase akan turun hingga 3.8-5.0 karena adanya produksi asam laktat dan asam-asam lainnya.
c. Tahap II – Fase stabil.
Tahap ini akan berlangsung selama oksigen dari luar tidak masuk ke dalam silo/fermentor. Sebagian besar jumlah mikroorganisme yang berkembang pada fase fermentasi akan berkurang secara perlahan. Beberapa jenis mikroorganisme toleran asam dapat bertahandalam kondisi stasioner (inactive) pada fase ini, mikroorganisme lainnya seperti clostridia dan bacilli bertahan dengan menghasilkan spora. Hanya beberapa jenis mikroorganisme penghasil enzim protease dan carbohydrase toleran asam serta beberapa mikroorganisme khusus, seperti Lactobacillus buchneri yang dapat tetap aktif pada level rendah.
d. Tahap IV – Fase pemanenan (feed-out/aerobic spoilage) .
Fase ini dimulai segera setelah silo/fermentor dibuka dan silase terekspose udara luar. Hal tersebut tidak terhindarkan, bahkan dapat dimulai terlalu awal jika penutup silase rusak sehingga terjadi kebocoran. Jika fase ini berlangsung terlalu lama, maka silase akan mengalami deteriorasi atau penurunan kualitas silase akibat terjadinya degradasi asam organik yang ada oleh khamir dan bakteri asam asetat. Proses tersebut akan menaikkan pH pada tumpukan silase dan selanjutya akan berlangsung tahap spoilage ke-2 yang mengakibatkan terjadinya kenaikan suhu, dan peningkatan aktifitas mikroorganisme kontaminan, seperti bacilli, moulds dan enterobacteria (Honig and Woolford, 1980).
Untuk menghindari terjadinya kegagalan dalam proses pembuatan silase, maka perlu dilakukan pengontrolan dan optimalisasi pada setiap tahapan ensilasi. Pada tahap I, dibutuhkan teknik filling material hijauan yang baik kedalam silo, sehingga dapat meminimalisir jumlah oksigen yang ada di antara partikel tanaman. Teknik pemanenan tanaman yang dikombinasikan dengan teknik filling yang baik diharapkan dapat meminimalisir hilangnya karbohidat terlarut (water soluble carbohydrates) akibat respirasi aerobik ketika hijauan berada di luar maupun di dalam silo, sehingga terdapat lebih banyak gula sederhana yang tersisa untuk proses fermentasi asam laktat pada tahap II. Proses ensilasi tidak dapat dikontrol secara aktif ketika telah masuk pada tahap II dan III. Pada tahap IV, diperlukan silo/fermentor yang benar-benar kedap udara untuk meminimalisir kontaminasi aerobik selama penyimpanan. Segera setelah silo/fermentor dibuka, silase harus diberikan kepada ternak hingga habis.
Faktor-Faktor yang Perlu di Perhatikan dalam Proses Pembuatan Silase:
a. Tingkat kematangan dan kelembaban bahan
Tingkat kematangan tanaman yang tepat memastikan tercukupinya jumah gula fermentasi (fermentable sugar) untuk proses pertumbuhan bakteri silase dan memberikan nutrisi maksimum untuk ternak. Tingkat kematangan juga memiliki pengaruh yang besar pada kelembaban hijauan pakan ternak, tercukupinya kelembaban untuk fermentasi bakteri sangat penting dan membantu dalam proes pembungkusan untuk mengeluarkan oksigen dari silase
b. Panjang pemotongan
Panjang pemotongan yang paling bagus adalah antara ¼-1/2 inci, tergantung pada jenis tanaman, struktur penyimpanan dan jumlah silase. Potongan material tanaman dengan panjang tersebut akan menghasilkan silase degan kepadatan yang ideal dan memudahkan pada saat proses pemanenan. Mengatur mesin pemotong dengan hasil potongan yang terlalu halus dapat memberikan dampak negatif terhadap produksi lemak susu  dan timbulnya dislokasi abomasums  pada sapi perah karena faktor awal yang tidak memadai.
Memotong hijauan pakan ternak terlalu panjang juga dapat mengakibatkan silase sulit untuk memadat, serta udara akan terperangkap di dalam silase yang pada akhirnya mengakibatkan pemanasan dan penurunan kualitas. Pemotongan secara berulang secara umum tidak disarankan, kecuali  jika kondisi bahan silase terlalu kering.
c. Pengisian, pembungkusan, dan penutupan
Proses pemanenan dan pengisian silo harus dilakukan secepat mungkin. Penundaan pengisian akan berakibat pada terjadinya proses respirasi yang berlebih dan meningkatkan loss hasil silase. Pembungkusan dilakukan sesegera mungkin pada saat akan menyimpan silase di bunker silo. Setelah diisi, silo harus ditutup rapat dengan bungkus kedap udara untuk menghindari penetrasi udara dan air hujan ke dalam silase. Plastik berkualitas baik yang dibebani menggunakan ban umumhya akan menghasilkan penutupan yang memadai.  (Sumber http://akbar.blog.ugm.ac.id/2013/02/17/fermentasi-hijauan-pakan-ternak-silase/ )

TEKNIK PEMBUATAN AMONIASI UREA JERAMI PADI SEBAGAI PAKAN TERNAK

TEKNIK PEMBUATAN AMONIASI UREA JERAMI PADI
SEBAGAI PAKAN TERNAK
Oleh: Syam Rahadi, S.Pt, MP.

(Penulis ”sebelah kiri” sedang memberikan makalah)
Makalah ini disampaikan pada PENERAPAN IPTEK Pemanfaatan Limbah Jerami Padi Melalui Teknologi Amoniasi untuk Mengatasi Kekurangan Pakan di Musim Kemarau, di Desa Alebo Kec. Konda Kab. Konawe Selatan Sulawesi Tenggara, 24 November 2008. atas biaya The Develompent and Upgrading of Haluoleo University-IDB Loan
Latar Belakang
Hijauan merupakan sumber pakan utama untuk ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing dan domba)
Untuk meningkatan produksi perlu penyediaan hijauan pakan yang cukup baik kuantitas, kualitas maupun kontinuitasnya
Hijauan pakan ternak yang umum diberikan untuk ternak ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang serta pinggiran jalan.
Faktor Penghambat Penyedian Hijauan Pakan
(a)Terjadinya perubahan fungsi lahan yang sebelumnya sebagai sumber hijauan pakan menjadi lahan pemukiman, lahan untuk tanaman pangan dan tanaman industri
(b)Sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia semakin berkurang
(c)Secara umum di Indonesia ketersediaan hijauan pakan juga dipengaruhi oleh iklim, sehingga pada musim kemarau terjadi kekurangan hijauan pakan ternak dan sebaliknya di musim hujan jumlahnya melimpah
Solusi
  • Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan
  • Sumber limbah pertanian diperoleh dari komoditi tanaman pangan, dan ketersediaanya dipengaruhi oleh pola tanam dan luas areal panen dari tanaman pangan di suatu wilayah
  • Jenis limbah pertanian sebagai sumber pakan adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kedelai, jerami kacang tanah, pucuk ubi kayu, serta jerami ubi jalar dll.
  • Jerami padi merupakan salah satu limbah pertanian yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia
  • Penggunaan jerami padi sebagai pakan ternak telah umum dilakukan di daerah tropik, terutama sebagai makanan ternak pada musim kemarau
  • Penggunaan jerami padi sebagai makanan ternak mengalami kendala terutama disebabkan adanya faktor pembatas dengan nilai nutrisi yang rendah yaitu kandungan protein rendah, serat kasar tinggi, serta kecernaan rendah
  • Pemanfaatan jerami padi sebagai pakan baru mencapai 31-39%, sedangkan yang dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai pupuk 36-62%, dan sekitar 7-16% digunakan untuk keperluan industri
Kelemahan Jerami Padi
  • Kandungan nutrisi yang rendah, misalnya kandungan protein jerami 3-5 %, sedangkan protein rumput gajah mencapai 12-14%
  • Rendahnya kecernaan yang disebabkan oleh:
1. terdapat lignin sekitar 6-7%
2. Mengandung silikat 13 %
  • Silikat dan lignin ini bagaikan kaca pelapis, yang melapisi zat-zat yang berguna dan bernilai energi tinggi seperti protein, selulose, hemiselulose
  • Ikatan serat di dalamnya juga sangat kuat
Pengolahan Jerami Padi dengan Amoniasi Urea
  1. Amoniasi merupakan suatu cara pengolahan jerami padi secara kimiawi dengan menggunakan gas amonia
  2. Pengadaan gas amonia mahal
  3. Urea atau CO(NH2)2, Sumber gas amonia yang murah dan mudah diperoleh,
  4. 1 kg urea menghasilkan 0,57 kg gas amonia
  5. Urea merupakan senyawa kimia yang mengandung + 45 % unsur nitrogen
Manfaat Amoniasi
  1. Merubah tekstur dan warna jerami yang semula keras berubah menjadi lunak dan rapuh
  2. Warna berubah dari kuning kecoklatan menjadi coklat tua
  3. Meningkatkan kadar protein, serat kasar, energi bruto (GE), tetapi menurunkan kadar bahan ekstrak tiada nitrogen (BETN) dan dinding sel
  4. Meningkatkan bahan kering, bahan organik, dinding sel, nutrien tercerna total, energi tercerna, dan konsumsi bahan kering jerami padi
  5. NH3 cairan rumen meningkat
  6. Memberikan balan nitrogen yang positif
  7. Menghambat pertumbuhan jamur
  8. Memusnahkan telur cacing yang terdapat dalam jerami.
Hasil Analisa Laboratorium Amoniasi Urea Jerami Padi

Jerami Padi
Tanpa Amoniasi
Jerami Padi
Teramoniasi
Protein Kasar (%)
3,45
6,66
Lemak (%)
1,20
1,21
Serat Kasar (%)
33,02
35,19
BETN
37,27
31,76
Abu
25,06
25,18
Kandungan Dinding Sel
(NDF) (%)
79,80
75,09
Energi Bruto (GE)
(Kcal/kg)
3539,48
3927,36
Sumber: Chuzaemi, S. dan Soejono, M. (1987)
Kecernaan Zat-zat Makanan Jerami Padi
Kecernaan
Jerami Padi
Tanpa Amoniasi
Jerami Padi
Teramoniasi
Bahan Kering (%)
40,65
50,09
Bahan Organik (%)
50,57
60,51
Dnding Sel/NDF (%)
46,51
60,51
Nutrien tercerna total/
TDN (%)
38,59
46,37
Energi Tercerna/DE
(Kcal/g)
1,45
1,99
Sumber: Chuzaemi, S. dan Soejono, M. (1987)



Jerami Padi
Tanpa Amoniasi
Jerami Padi
Teramoniasi
Konsumsi BK (g)
(per ekor per kg Berat
Badan Metabolit)
63,04
72,00
Balans Nitrogen
-0,0039
0,0026
Konsentrasi NH3
(mg/100 ml)
0,11
5,22
pH cairan rumen
0,18
1,14
Konsentrasi urea darah
(mg/100 ml)
0,47
7,31
Sumber: Chuzaemi, S. dan Soejono, M. (1987)
Teknik Pembuatan Amoniasi Urea Jerami Padi
BAHAN
1. Jerami padi : (jerami yang berkualitas baik, artinya tidak busuk ataupun basah karena terendam air sawah maupun hujan)
2. Urea
3. Air
ALAT

Timbangan
Plastik
Ember
Alat Pemotong Jerami
Sendok
Alat penyiram
Prosedur Pembuatan
  1. Jerami padi ditimbang sesuai dengan jumlah yang diperlukan
  2. dipotong-potong dengan ukuran sekitar 5-10 cm,
  3. Ditambahkan urea sebanyak 6 % dari bobot jerami padi yang digunakan. Misalnya : jumlah jerami padi yang diolah sebanyak 50 kg maka urea yang dibutuhkan sebanyak 6% x 50 kg = 3 kg,
  4. Disiapkan air bersih sebanding dengan jumlah jerami padi yang digunakan. Misalnya : jerami padi 50 kg, diperlukan air 50 liter.
  5. Disiapkan silo yang dapat dibuat dengan lubang di tanah yang disesuaikan dengan jumlah jerami padi yang diolah. Selain itu dapat pula digunakan drum atau kantong plastik. Sebelum jerami ditumpuk alas pada dasar wadah diberi plastik,
  6. Selanjutnya jerami padi yang telah dipotong-potong dimasukkan ke dalam lubang silo (dapat juga menggunakan wadah plastik, drum, lantai semen), sehingga membentuk lapisan setebal 10-20 cm,
  7. kemudian setiap lapisan disemprot dengan larutan urea secara merata dan setelah itu disemprot dengan air bersih.
  8. Jerami padi disusun sedemikian rupa sehingga membentuk tumpukan ke atas, dan
  9. Setelah penumpukan jerami selesai, ditutup dengan rapat menggunakan plastik dan disimpan selama empat minggu (21 hari)
  10. Setelah penyimpanan, tutup dibuka, dikering anginkan dan jerami padi amoniasi dapat digunakan sebagai pakan ternak ruminansia
Proses amonisi bila sempurna ditandai tekstur jerami relatif lebih mudah putus, berwarna kuning tua atau coklat dan bau monia. Untuk mengurangi bau amonia, jerami harus dianginkan selama 1-2 jam sebelum diberikan pada ternak
SELAMAT MENCOBA SEMOGA BERHASIL