Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
PENGARUH CUACA, IKLIM dan TANAMAN
PENGARUH CUACA, IKLIM dan TANAMAN
1. Pengaruh iklim dalam produksi tanaman.
Hasil
suatu jenis tanaman bergantug pada interaksi antara faktor genetis dan
faktor lingkungan seperti jenis tanah, topografi, pengelolaan, pola
iklim dan teknologi. Dari faktor lingkungan, maka faktor tanah merupakan
modal utama. Keadaan tanah sangat dipengaruhi oleh unsur-unsur iklim,
yaitu hujan, suhu dan kelembaban. Pengaruh itu kadang menguntungkan tapi
tidak jarang pula merugikan.
Lang membedakan tanah menjadi 2 tipe yaitu :
-
Climate Soil tipe, adalah tanah yang pembentukannya dipengaruhi oleh hujan dan temperatur. Lang membuat istilah yang disebut dengan faktor hujan dengan rumus : R = r / t
dimana
R: faktor hujan
r: curah hujan tahunan
t : temperatur
Untuk
faktor hujan Lang mengambil batasan R=40, untuk daerah kering dimana
nilai R kurang dari 40 tanaman akan tumbuh kurang baik karena
pembentukan zat organik kurang. Apabila R lebih dari 40 kemungkinan
produksi zat organik akan lebih besar. Saat R=120 berarti tanah tersebut
bertipe optimal bagi pertumbuhan. Namun apabila R lebih dari 120 maka
akan terjadi humus yang berlebihan, akibatnya akan terbentuk gambut.
-
Aclimate Soil type, adalaah tanah yang pembentukannya bukan disebabkan oleh faktor iklim, melainkan keadaan batuan.
Faktor
iklim yang paling berpengaruh terhadap tanah adalah hujan. Air hujan
akan mengikis bagian top soil tanah yang merupakan bagian tanah yang
subur. Apabila bagian top soil dibiarkan terkikis
terus menerus, maka lapisan ini akan hilang dan yang tampak adalah
lapisan bagian bawahnya, yang dikenal denga sub soil. Sub soil ini
merupakan lapisan di bawahnya yang kurang subur, masih mentah, di mana
mikroorganismenya sudah hilang sehingga diperlukan perbaikan-perbaikan
yang memakan waktu cukup lama untuk menjadi produktif kembali (antara
2-5 tahun).
Pada tanah yang memiliki land slope
5%-10% gejala-gejala erosi pada top soil bisa terjadi. Sehingga perlu
dilakukan tindakan-tindakan praktis untuk mempertahankan
produktivitasnya. Misalnya dengan melakukan penanaman menurut kontur dan
cross slope seeding of legumes. Pada tanah yang yang memiliki land slope yang
lebih curam yaitu antara 15%-25% yang menurut penelitian lapisan top
soilnya hampir seluruhnya terhanyutkan makam perlu dibuatkan sengkedan
dan drinage yang baik agar saat hujan deras pengikisan lapisan top soilnya dapat dikurangi.
Selanjutnya tanah yang memiliki land slope antar
25%-35%, yang berdasarkan penelitian bagian top soil-nya telah tererosi
hebat, kandungan kelembabannya sangat dipengaruhi angin kencang, akan
tetapi dalam batas-batas tertentu masih dapat ditanami misalnya :tanaman
yang tumbuhnya rapat, rumput-rumputan atau jenis makanan ternak. Dengan
membiarkan jenis rerumputan tumbuh didaerah ini, kemungkinan lapisan
permukaan akan sedikit demi sedikit terbentuk kembali. Tanah yang
memiliki land slope melebihi 40% sebaiknya dipelihara sebagai tanah-tanah hutan, ditanami dengan tanaman keras sedang ground cover crops-nya seperti rerumputan dan semak belukar, dengan cara ini erosi dapat dihambat.
Berbeda
dengan faktor tanah yang telah banyak dipelajari dan difahami, cuaca
dan iklim merupakan salah satu peubah dalam produksi pangan yang paling
sukar dikendalikan. Oleh karena itu dalam usaha pertanian, umumnya
disesuaikan dengan kondisi iklim setempat. Junghuhn mengklasifikasi daerah iklim di Pulau Jawa secara vertikal sesuai dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan
Pembagian daerah iklim tersebut adalah:
-
Daerah panas/tropis
Tinggi tempat : 0 – 600 m dari permukaan laut.
Suhu : 26,3o C – 22o C.
Tanaman : padi, jagung, kopi, tembakau, tebu, karet, kelapa, coklat. -
Daerah sedang
Tinggi tempat : 600 m – 1500 m dari permukaan laut.
Suhu : 22o C – 17,1o C.
Tanaman : padi, tembakau, teh, kopi, coklat, kina, sayur-sayuran. -
Daerah sejuk
Tinggi tempat : 1500 – 2500 m dari permukaan laut.
Suhu : 17,1o C – 11,1o C.
Tanaman : kopi, teh, kina, sayur-sayuran. -
Daerah dingin
Tinggi tempat : lebih dari 2500 m dari permukaan laut.
Suhu : 11,1o C – 6,2o C.
Tanaman : Tidak ada tanaman budidaya.
Di
Indonesia, perhatian dan kerjasama antara para ahli klimatologi dengan
ahli pertanian semakin meningkat terutama dalam rangka menunjang
produksi tanaman pangan. Daya hasil beberapa tanama pangan di Indonesia
masih rendah jika dibandingkan dengan
negara-negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat. Perbedaan ini
disebabkan oleh pemakaian teknologi tinggi dan pengelolan yang baik.
Penigkatan produksi tanaman pangan selain dengan panca usaha tani juga
dilakukan dengan pemanfaatan iklim.
Daya hasil (ton/ha) berbagai tanaman di beberapa negara (1978)
|
Jenis tanaman
|
Indonesia
|
Filipina
|
Thailand
|
Malaysia
|
Jepang
|
USA
|
|
Padi sawah
|
2,29
|
1,84
|
2,05
|
2,52
|
6,25
|
5,05
|
|
Jagung
|
1,10
|
0,96
|
2,16
|
3,23
|
2,75
|
6,35
|
|
Ubi kayu
|
9,21
|
9,59
|
18,34
|
10,01
|
-
|
-
|
|
Kacang tanah
|
1,35
|
0,73
|
1,36
|
4,30
|
1,79
|
2,96
|
|
Kedelai
|
0,97
|
0,82
|
0,71
|
1,56
|
1,50
|
1,79
|
|
Ubi jalar
|
7,81
|
4,00
|
10,17
|
9,70
|
20,00
|
14,13
|
|
Tebu
|
83,33
|
41,43
|
33,53
|
38,05
|
56,06
|
80,51
|
|
Kopi
|
0,49
|
1,06
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Teh
|
0,38
|
0,54
|
-
|
0,47
|
-
|
-
|
|
Tembakau
|
0,47
|
0,66
|
0,47
|
0,78
|
2,71
|
3,38
|
Sumber: FAO, 1978
Namun
sekarang penyimpangan-penyimpangan terhadap iklim sering terjadi.
Pengalaman menunjukkan bahwa secara temporer berbagai bentuk
penyimpangan iklim telah sering mengancam sistem produksi pertanian.
Ancaman tersebut tidak saja menyebabkan gangguan produksi, tetapi juga
menggagalkan panen dalam luasan ratusan ribu hektar. Peristiwa
kekeringan tahun 1994 dan 1997 merupakan yang terburuk selama abad 20.
Luas areal pertanian di Indonesia yang mengalami kekeringan mencapai
161.144 sampai 147.126 ha yang mengakibatkan penurunan produksi beras
nasional secara signifikan dan pemerintah kembali harus mengimpor beras
sekitar 5 juta ton. Kerawanan sosial sebagai dampak lanjutan dari
kekeringan ini akan semakin memberatkan manakala periode ulang El Nino
meningkat menjadi 2-3 tahun satu kali.
Di
dalam 18 dari 28 tahun panenan (1955-1982), banjir atau kemarau panjang
merupakan penyebab utama dari kegagalan panen di Indonesia (Baradas,
1984). Langkah-langkah yang lazim diambil untuk mengatasi masalah ini
adalah dengan merangsang hujan, meramal hujan atau memperbaiki
jenis-jenis tanaman. Tetapi pada musim kemarau pembentukan awan sangat
sedikit dan massa udara kering, sehingga sulit untuk dilakukan hujan
buatan. Sedangkan ramalan hujan hanya
memberikan informasi mengenai waktu terjadinya hujan, padahal tumbuhan
memerlukan air dengan jumlah dan saat yang tepat. Jenis padi yang tahan
banjir dan kemaraupun hanya tidak dapat memberikan hasil yang besar dan
itupun kalau banjir tidak menghanyutkan atau kemaru tidak membuatnya
kering.
-
-
Suhu
-
Suhu
udara dan tanah mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman. Setiap jenis
tanaman mempunyai batas suhu minimum, optimum dan maksimum yang
berbeda-beda untuk setiap tingkat
pertumbuhannya. Gandum dalam musim dingin tahan berada dalam kondisi
suhu nisbi rendah dan dan dapat bertahan dalam suhu beku selama periode
musim dingin. Tanaman tropis misalnya coklat memerlukan suhu tinggi
sepanjang tahun. Batas atas suhu yang mematikan aktivitas sel-sel
tanaman berkisar antara 1200 sampai 1400 F
tetapi nilai ini beragam sesuai dengan jenis tanaman dan tingkat
pertumbuhannya. Suhu tinggi tidak mengkhawatirkan dibandingkan suhu
rendah dalam menahan pertumbuahan tanaman asal persediaan air memadai
dan tanaman dapat menyesuaikan terhadap daerah iklim. Dalam kondisi
suhubyang sangat tinggi, pertumbuhan terhambat bahkan terhenti tanpa
menghiraukan persediaan air, dan kemungkinan keguguran daun atau buah
sebelum waktunya. Bencana terhadap tanaman pangan biasanya berasal dari
keadaan kering yang sangat panas dan angin yang mempercepat penguapan
dan mengakibatkan dehidrasi jaringan tanaman.
Suhu
udara merupakan faktor lingkungan yang penting karena berpengaruh pada
pertumbuhan tanaman dan berperan hampir pada semua proses pertumbuhan.
Suhu udara merupakan faktor pentinga dalam menentukan tempat dan waktu
penanaman yang cocok, bahkan suhu udara dapat juga sebagai faktor
penentu dari pusat-pusat produksi tanaman, misalnya kentang di daerah
bersuhu rendah sebaliknya padi di daereah bersuhu tinggi.
Ditinjau
dari klimatologi pertanian, suhu udara di Indonesia dapat berperan
sebagai kendali pada usaha pengembangan tanaman padi di daerah-daerah
yang mempunyai dataran tinggi. Sebagian besar
padi unggul dapat berproduksi dengan baik sampai pada ketinggian 700
dpl, demikian juga tanaman kedelai, kacang tanah, dan kacang hijau.
Suhu
udara rata-rata yang tinggi baik untuk tanaman seperti kacang tanah dan
kapas. Sedangkan gandum, kentang dan tomat dapat ditanam di dataran
tinggi dengan suhu yang lebih rendah. Jenis tanaman yang tahan
kekeringan diantaranya ubi kayu, wijen, kacang tanah, kacang hijau dan
semangka.
-
-
Air
-
Air adalah faktor yang lebih penting dalam produksi tanaman pangan dibandingakan dengan faktor lingkungan lainnya.
Tanaman pangan memperoleh persediaan air dari akar, itu sebabnya
pemeliharaan kelembaban tanah merupakan faktor yang penting dalam
pertanian. Jumlah air yang berlebih dalam tanah akan mengubah berbagai
proses kimia dan biologis yang membatasi jumlah oksigen dan meningkatkan
pembentukan senyawa yang berbahaya bagi akar tanaman. Curah hujan yang
lebat dapat menggangu pembungaan dan penyerbukan.
Curah
hujan memegang peranan pertumbuhan dan produksi tanaman pangan. Hal ini
disebabkan air sebagai pengangkut unsur hara dari tanah ke akar dan
dilanjutkan ke bagian-bagian lainnya. Fotosintesis akan menurun
jika 30% kandungan air dalam daun hilang, kemudian proses fotosintesis
akan berhenti jika kehilangan air mencapai 60% (Griffiths, 1976)
Pola umum curah hujan di Kepulauan Indonesia dapat dikatakan sebagai berikut:
-
Pantai barat setiap pulau memperoleh jumlah hujan selalu lebih banyak dari pantai timur.
-
Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT merupakan barisan pulau-pulau yang panjang dan berderet dari barat ke timur. Pulau-pulau ini hanya diselingi oleh selat-selat yang sempit, sehingga untuk kepulauan ini secara keseluruhan tampak seakan akan satu pulau, sehingga berlaku juga dalil, bahwa di sebelah timur curah hujan lebih kecil, kalau dibandingkan dengan sebelah barat. Sebelah barat dari jejeran pulau ini adalah pantai Barat Jawa Barat.
-
Selain bertambah jumlahnya dari timur ke barat, hujan juga bertambah jumlahnya dari dataran rendah ke pegunungan, dengan jumlah terbesar pada ketinggian 600 – 900 m.
-
Di daerah pedalaman semua pulau, musim hujan jatuh pada musim Pancaroba, demikian juga halnya di daerah-daerah rawa yang besar-besar.
-
Bulan maksimum hujan sesuai dengan letak D.K.A.T.
-
Saat mulai turunnya hujan juga bergeser dari Barat ke Timur. Pantai Barat Pulau Sumatera sampai Bengkulu, mendapat hujan terbanyak bulan November. Lampung, Bangka, yang letaknya sedikit ke timur, pada bulan Desember. Sedangkan Jawa (utara), Bali, NTB, NTT pada bulan Januari-Februari, yang letaknya lebih ke timur lagi.
-
Sulawesi Selatan bagian timur, Sulawesi Tenggara, Maluku Tengah mempunyaimusim hujan yang berbeda, yaitu Mei-Juni. Justru pada waktu bagian lain Kepulauan Indonesia ada pada musim kering. Batas wilayah hujan Indonesia Timur kira-kira terdapat pada 120o bujur timur.
Dalam kondisi alamih,
kelebihan air kurang bermasalah jika dibandingkan dengan kekeringan.
Menurut Thornthwaite (1974), kekeringan didefinisikan sebagai sebuah
keadaan yang membutuhkan air untuk transpirasi dan penguapan langsunga
melalui jumlah air yang tersedia di tanah. Kekeringan dapat dibedakana
menjadi tiga kelas yaitu :
-
Kekeringan permanen yang disebabkan oleh iklim kering.
-
Kekeringan musiman yang terjadi pada iklim dengan periode cuaca kering tahunan berbeda.
-
Kekeringan akibat keadaan curah hujan yang berubah-ubah.
Sumber
pokok dari kekeringan adalah curah hujan, meskipun faktor peningkatan
kebutuhan air cenderung meningkat. Kelembaban nisbi rendah, angin
kencang dan suhu yang tinggi merupaka faktor pendukung kekeringan karena
faktor ini mempercepat evapotranspirasi. Tanah yang kehilangan air
secara cepat oleh penguapan atau pembuangan air juga meningkatkan
kekeringan. Irigasi adalah cara yang paling cocok untuk mengatasi
kekeringan. Jika ada irigasi maka suhu menjadi faktor iklim yang penting
dalam mengendalikan produksi tanaman pangan.
-
-
Radiasi matahari
-
Radiasi matahari yang
ditangkap klorofil pada tanaman yang menpunyai hijau daun merupakan
energi dalam proses fotosintesis. Hasil fotosintesis ini menjadi bahan
utama dalam pertumbuhan dan produksi tanaman pangan. Selain meningkatkan
laju fotosintesis, peningkatan cahaya matahari biasanya mempercepat
proses pembungaan dan pembuahan. Sebaliknya, penurunan intensitas
radiasi matahari akan memperpanjang masa pertumbuhan tanaman. Jika air
cukup maka pertumbuhan dan produksi padi hampir seluruhnya ditentukan
oleh suhu dan radiasi matahari.
Tanaman
yang dipanen buah atau bijinya akan tumbuh dengan baik pada intensitas
radiasi matahari yang tinggi. Pada tanaman kedelai penurunan intensitsa
radiasi matahari akan menurunkan hasil polong dan biji kering.
Intensitas radiasi yang rendah sejak penanaman dapat menurunkan hasil
yang sangat besar jika dibandingakan jika hanya pada fase pengisian
polong.
Radiasi
matahari merupakan faktor penting dalam metabolisme tanaman yang
berklorofil, karena itu produksi tanaman pangan dipengaruhi oleh
tersedianya cahaya matahari. Tapi umumnya fluktuasi hasil dari tahun ke
tahun tidak mempunyai korelasi dengan ketersediaan radiasi matahari,
karena produksi pangan ditentukan juga oleh faktor lain.
-
-
Angin
-
Angin
secara tidak langsung mempunyai efek penting pada produksi tanaman
pangan. Energi angin merupakan perantara dalam penyebaran tepung sari
pada penyerbukan alamiah, tetapi angin juda
dapat menyebarkan benih rumput liar dan melakukan penyerbuka silang yang
tidak diinginkan. Angin yang terlalu kencang juga akan menggangu
penyerbukan oleh serangga.
Angin
dapat membantu dalam menyediakan karbon dioksida yang membantu
pertumbuhan tanaman, selain itu juga mempengaruhi suhu dan kelembaban
tanah. Namun pada saat musim kemarau di beberapa daerah di Indonesia
bertiup angan fohn yang
dapat merusak karena bersifat kering dan panas. Pada siang hari
didaerah sekitar pantai, angin laut dapat menyebabkan masalah karena
angin ini membawa butiran garam yang dapat merusak daun.
2. Tanaman dan syarat pertumbuhannya
2.1 Kentang
Kentang (Solanum tuberosum L)
merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi komoditi penting.
Untuk itulah dibutuhkan penanganan yang lebih baik dalam penanaman dan
pemeliharaannya. Syarat pertumbuhan,kentang ditanam pada iklim yang
Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu
optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m
dpl, Kemudian mempunyai Struktur tanah yang remah, gembur, banyak
mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah
yang dalam dan pH antara 5,8-7,0. Kentang (Solanum tuberosum L)
merupakan sumber utama karbohidrat, sehingga menjadi komoditi penting.
Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu
optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m
dpl. Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik,
berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara
5,8-7,0.
2.2 Kopi
Setiap jenis
kopi memerlukan tinggi tempat dari permukaan laut dan temperatur yang
berbeda-beda. Jenis Arabika dapat hidup pada 1000-1700 m diatas
permukaan laut dengan suhu 16 -200C.Jenis Robusta dapat hidup pada 500-1000 m diatas permukaan laut tetapi yang baik 800 m diatas permukaan laut dengan suhu 200C.
Pertanaman kopi arabika yang dekat permukaan laut banyak diserang
penyakit karat daun, sedang ketinggian lebih dari 2000 m sering diganggu
embun upas. Jenis Liberica dapat hidup baik didaratan rendah. Curah
hujan yang dibutuhkan tanaman kopi minimal dalam 1 tahun 1000-2000 mm,
optimal 2000-3000 mm sedang di Indonesia curah hujan terletak 2000 –
3000 mm.Kopi robusta menghendaki musim kemarau 3-4 bulan, tetapi pada
waktu itu harus sering ada hujan yang cukup. Musim kering dikehendaki
maksimal 1,5 bulan sebelum masa berbunga lebat, sedangkan masa kering
sesudah berbunga lebat sedapat mungkin tidak melebihi dua minggu.Pohon
kopi tidak tahan terhadap angin yang kencang, lebih-lebih dimusim
kemarau, karena angin ini akan mempertinggi penguapan air dipermukaan
tanah dan juga dapat mematahkan pohon pelindung,untuk mengurangi hal-hal
tersebut ditepi-tepi kebun ditanam pohon penahan angin Tanah yang
dikehendaki adalah yang mempunyai solum yang cukup dalam gembur dengan
bahan organik yang cukup, karenanya sangat cocok ditanam pada tanah
bekas hutan. Keasaman (pH) tanah 5,5 – 6,5 dengan air tanah cukup dalam.
2.3 Alpukat
Bagi varietas-varietas alpukat Indonesia suhu optimum adalah sekitar 25 – 300C (siang hari) dan 15 – 200C
(malam hari).Periode dengan suhu malam hari yang dingin dan
berkepanjangan, seperti yang biasanya terjadi antara bulan Juli dan
Agustus, akan merangsang produksi bunga. Pohon-pohon alpukat yang sudah
mapan dapat mentoleransi suhu sampai setinggi 400C, tetapi tidak dapat mentoleransi kombinasi suhu > 400C
yang berkepanjangan dan kelembaban rendah, yang mengakibatkan stress
dan berkurangnya produktivitas. Pohon alpukat hanya memerlukan
syarat-syarat yang moderat mengenai kebasahan: curah hujan 1.000 – 1500
mm/tahun sudah mencukupi. Malah diketahui bahwa di Indonesia bagian
Timur di mana curah hujan hanya sekitar 500 mm/tahun, pohon alpukat
masih dapat tumbuh. Perlu diperhatikan bahwa kebutuhan akan air sangat
kritis pada waktu pohon berkembang dan pada waktu pembentukan buah. Juga
kebutuhan akan air sangat kritis tiga bulan sesudah pohon berkembang,
yaitu saat buah tumbuh maksimum dan berlanjut sampai buah benar-benar
tua. Pohon alpukat dapat tumbuh di bermacam tanah, tetapi paling baik
hidup di tanah bertekstur medium dengan pH 5,5 – 6,5. Pohon alpukat
tidak toleran terhadap penggenangan yang berkepanjangan, karenanya
sangat penting untuk menanam pohon alpukat di daerah-daerah dengan
struktur tanah yang mudah terdrainase.
2.4 Coklat
Tanaman coklat merupakan tanaman tropis yang dipengaruhi oleh kelembaban dan temperatur. Coklat dapat hidup pada daerah yang ada pada 200 LU dan 200 LS. Hidup dan berkembang di dataran rendah sampai ketinggian 500 m dpl. Temperatur rata-rata tahunan yang dikehendakinya 250 C dengan suhu rata-rata harian terendah tidak kurang dari 150 C. Tanaman coklat sangat tidak tahan tehadap penyimpangan temperatur yang mencolok, jika suhu harian di bawah 150
C mata-mata tunas akan berkembang menjadi tunas-tunas, dan apabila hal
ini terus terjadi maka persediaan makanan dalam batang akan berkurang
dan mempengaruhi pertumbuhan. Curah hujan yang dikehendaki antara 1700
mm sampai 3000 mm per tahun. Namun dalam kondisi tanah berlempung dengan
distribusi merata dapat juga hidup dengan baik pada daerah dengan curah
hujan 1500 mm per tahun. Kebutuhan cahaya untuk asimilasi yang maksimal
75% dari cahaya matahari. Kelembaban tanah antara 6,1 sampai 7 dengan
pH antara 6,1 sampai 8,1.
2.5 Cengkeh
Tanaman cengkeh adalah tanaman daerah tropis. Temperatur harian yana baik untuk tanaman ini antara 650 F sampai 850 F.
Cengkeh dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi dengan
ketinggian 900 m dpl. Curah hujan yang dikehendaki merata sepanjang
tahun, dari 12 bulan dalam setahun 9 bulan dikehendaki bulan-bulan basah
dan 3 bulan kering. Pada bulan kering ini dikehendaki curah hujannya
60-80 mm. Curah hujan per tahun yang dikehendaki antara 2000-6000mm.
Tumbuh baik pada tanah gembur dengan pH 4,5.
DAFTAR PUSTAKA
Kartasapoetra, Ance Gunarsih, Ir., 1993. Klimatologi Pengaruh Iklim terhadap Tanah
dan Tanaman. Jakarta : Bumi Aksara.
Tjasyono, Bayon. 2004. Klimatologi. Bandung : ITB.
TEKNOLOGI BUDIDAYA ORGANIK
Oleh : Dr. Ir. Ririen Prihandarini MS
Pendahuluan
Memasuki abad ke-21 banyak
keluhan-keluhan masyarakat utamanya masyarakat menengah ke atas tentang
berbagai penyakit seperti stroke, penyempitan pembuluh darah,
pengapuran, dan lain-lain, yang disebabkan pola makan. Banyak sekali
bahan makanan yang diolah dengan berbagai tambahan bahan kimia.
Disamping itu budaya petani yang menggunakan pestisida kimia dengan
frekuensi dan dosis berlebih akan menghasilkan pangan yang meracuni
tubuh konsumen. Adanya logam-logam berat yang terkandung di dalam
pestisida kimia akan masuk ke dalam aliran darah. Bahkan makan sayur
yang dulu selalu dianggap menyehatkan, kini juga harus diwaspadai karena
sayuran banyak disemprot pestisida kimia berlebih.
Pada
saat ini satu dari empat orang Amerika mengkonsumsi produk organik. Di
negara itu, laju pertumbuhan produk organik sangat luar biasa, yakni
lebih dari 20 % setiap tahunnya dalam sepuluh tahun terakhir ini, dan
hal tersebut membuat pertanian organik tumbuh sangat cepat dalam mengisi
sektor ekonomi (Wood, Chaves dan Comis, 2002).
Dalam
era globalisasi, pasar sayuran organik sangat terbuka dan saat ini
Australia telah mengambil peluang ini dengan mengekspor sayuran organik
ke pasar Amerika, beberapa negara Eropa seperti Inggris, Jerman dan
Perancis, Jepang, juga ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Malaysia
dan Singpura (McCoy, 2001). Keadaan ini juga dicermti negara Asia
seperti Thailand yang sejak tahun 1995 telah mengeluarkan standarisasi
dan sertifikasi tentang produk organik (ACT, 2001).Peluang Indonesia
menjadi produsen pangan organik dunia, cukup besar. Disamping memiliki
20% lahan pertanian tropic, plasma nutfah yang sangat beragam,
ketersediaan bahan organik juga cukup banyak. Namun menurut IFOAM
(International Federation of Organic Agricultural Movement) Indonesia
baru memanfaatkan 40.000 ha (0.09%) lahan pertaniannya untuk pertanian
organik, sehingga masih diperlukan berbagai program yang saling sinergis
untuk menghantarkan Indonesia sebagai salah satu negara produsen
organik terkemukaIndonesia yang beriklim tropis, merupakan modal SDA
yang luar biasa dimana aneka sayuran, buah dan tanaman pangan hingga
aneka bunga dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Survey BPS (2000)
menunjukkan produksi sayuran di Indonesia, diantaranya bawang merah,
kubis, sawi, wortel dan kentang berturut-turut 772.818, 1.336.410,
484.615, 326.693 dan 977.349 ton pada total area seluas 291.192 Ha.
Selanjutnya survey yang dilakukan oleh Direktorat Tanaman Sayuran, Hias
dan Aneka Tanaman menunjukkan bahwa kebutuhan berbagai sayuran di 8
pasar swalayan di Jakarta sekitar 766 ton per bulan, dimana sekitar 5 %
adalah sayuran impor (Rizky, 2002).Sistem Pertanian OrganikSejak tahun
1990, isu pertanian organik mulai berhembus keras di dunia. Sejak saat
itu mulai bermunculan berbagai organisasi dan perusahaan yang
memproduksi produk organik. Di Indonesia dideklarasikan Masyarakat
Pertanian Organik Indonesia (MAPORINA) pada tgl 1 Februari 2000 di
Malang. Di Indonesia telah beredar produk pertanian organik dari
produksi lokal seperti beras organik, kopi organik, teh organik dan
beberapa produk lainnya. Demikian juga ada produk sayuran bebas
pestisida seperti yang diproduksi oleh Kebun Percobaan Cangar FP Unibraw
Malang. Walaupun demikian, produk organik yang beredar di pasar
Indonesia sangat terbatas baik jumlah maupun ragamnya. Pertanian organik
dapat didefinisikan sebagai suatu sistem produksi pertanian yang
menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan senyawa sintetik baik
untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida. Dilarangnya penggunaan bahan
kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah satu kendala yang
cukup berat bagi petani, selain mengubah budaya yang sudah berkembang
35 tahun terakhir ini pertanian organik membuat produksi menurun jika
perlakuannya kurang tepat. Di sisi lain, petani telah terbiasa
mengandalkan pupuk anorganik (Urea, TSP, KCl dll) dan pestisida sintetik
sebagai budaya bertani sejak 35 tahun terakhir ini. Apalagi penggunaan
pestisida, fungisida pada petani sudah merupakan hal yang sangat akrab
dengan petani kita. Itulah yang digunakan untuk mengendalikan serangan
sekitar 10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan
sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit
dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida sintetik
untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya mudah,
efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar. Bahkan
selama enam dekade ini, pestisida telah dianggap sebagai penyelamat
produksi tanaman selain kemajuan dalam bidang pemuliaan tanaman.
Pestisida yang beredar di pasaran Indonesia umumnya adalah pestisida sintetik. Sistem Pertanian Organik adalah
sistem produksi holistic dan terpadu, mengoptimalkan kesehatan dan
produktivitas agro ekosistem secara alami serta mampu menghasilkan
pangan dan serat yang cukup, berkualitas dan berkelanjutan (Deptan
2002).Sebenarnya, petani kita di masa lampau sudah menerapkan sistem
pertanian organik dengan cara melakukan daur ulang limbah organik sisa
hasil panen sebagai pupuk. Namun dengan diterapkannya kebijakan sistem
pertanian kimiawa yang berkembang pesat sejak dicanangkannya kebijakan
sistem pertanian kimiawi yang berkembang yang berkembang pesat sejak
dicanangkannya Gerakan Revolusi Hijau pada tahu 1970-an, yang lebih
mengutamakan penggunaan pestisida dan pupuk kimiawi, walaupun untuk
sementara waktu dapat meningkatkan produksi pertanian, pada kenyataannya
dalam jangka panjang menyebabkan kerusakan pada sifat fisik, kimia, dan
biologi tanah, yang akhirnya bermuara kepada semakin luasnya lahan
kritis dan marginal di Indonesia.Sistem pertanian organik sebenarnya
sudah sejak lama diterap kan di beberapa negara seperti Jepang, Taiwan,
Korea Selatan dan Amerika Serikat (Koshino, 1993).
Pengembangan
pertanian organik di beberapa negara tersebut mengalami kemajuan yang
pesat disebabkan oleh kenyataan bahwa hasil pertanian terutama sayur dan
buah segar yang ditanam dengan pertanian sistem organik (organic
farming system) mempunyai rasa, warna, aroma dan tekstur yang lebih baik
daripada yang menggunakan pertanian anorganik (Park 1993 dalam
Prihandarini, 1997).Selama ini limbah organik yang berupa sisa tanaman
(jerami, tebon, dan sisa hasil panen lainnya) tidak dikembalikan lagi ke
lahan tetapi dianjurkan untuk dibakar (agar praktis) sehingga terjadi
pemangkasan siklus hara dalam ekosistem pertanian. Bahan sisa hasil
panen ataupun limbah organik lainnya harus dimanfaatkan atau
dikembalikan lagi ke lahan pertanian agar lahan pertanian kita dapat
lestari berproduksi sehingga sistem pertanian berkelanjutan dapat
terwujud.Teknik Budidaya Organik Teknik Budidaya merupakan bagian dari
kegiatan agribisnis harus berorientasi pada permintaan pasar. Paradigma
agribisnis : bukan Bagaimana memasarkan produk yang dihasilkan, tapi
Bagaimana menghasilkan produk yang dapat dipasarkan. Terkait dengan itu,
teknik budidaya harus mempunyai daya saing dan teknologi yang unggul.
Usaha budidaya organik tidak bisa dikelola asal-asalan, tetapi harus
secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini harus mengenal betul
apa yang dikerjakannya, mampu membaca situasi dan kondisi serta
inovatif dan kreatif. Berkaitan dengan pasar (market), tentunya usaha
agribisnis harus dilakukan dengan perencanaan yang baik dan berlanjut,
agar produk yang telah dikenal pasar dapat menguasai dan mengatur
pedagang perantara bahkan konsumen dan bukan sebaliknya.Teknik budidaya
organik
merupakan teknik budidaya yang aman, lestari dan mensejahterakan petani dan konsumen.
Berbagai sayuran
khususnya untuk dataran tinggi, yang sudah biasa dibudidayakan dengan
sistem pertanian organik, diantaranya : Kubis (Brassica oleraceae var.
capitata L.), Brokoli (Brassica oleraceae var. italica Plenk.), Bunga
kol (Brassica oleraceae var. brotritys.), Andewi (Chicorium endive),
Lettuce (Lactuca sativa), Kentang (Solanum tuberosum L.), Wortel.
(Daucus carota). Sayuran ini, mengandung vitamin dan serat yang cukup
tinggi disamping juga mengandung antioksidan yang dipercaya dapat
menghambat sel kanker. Semua jenis tanaman ini ditanam secara terus
menerus setiap minggu, namun ada juga beberapa jenis tanaman seperti
kacang merah (Vigna sp.), kacang babi (Ficia faba), Sawi (Brassica sp)
yang ditanam pada saat tertentu saja sekaligus dimanfaatkan sebagai
pupuk hijau dan pengalih hama. Ada juga tanaman lain yang ditanam untuk
tanaman reppelent (penolak) karena aromanya misalnya Adas. Dalam upaya
penyediaan media tanam yang subur, penggunaan pupuk kimia juga dikurangi
secara perlahan. Untuk memperkaya hara tanah, setiap penanaman brokoli
selalu diberi pupuk kandang ayam dengan dosis 20 ton/ha. Lahan bekas
tanaman brokoli selanjutmya dirotasi dengan tanaman wortel yang dalam
penanamannya tidak perlu lagi diberi pupuk kandang. Nantinya setelah
tanaman wortel dipanen atau 100 hari kemudian, lahan tersebut dapat
ditanami brokoli kembali. Pupuk OrganikPeningkatan mutu intensifikasi
selama tiga dasawarsa terakhir, telah melahirkan petani yang mempunyai
ketergantungan pada pupuk yang menyebabkan terjadinya kejenuhan produksi
pada daerah-daerah intensifikasi padi.
Keadaan
ini selain menimbulkan pemborosan juga menimbulkan berbagai dampak
negatif khususnya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu perlu upaya
perbaikan agar penggunaan pupuk dapat dilakukan seefisien mungkin dan
ramah lingkungan. Adanya kejenuhan produksi akibat penggunaan pupuk yang
melebihi dosis, selain menimbulkan pemborosan juga akan menimbulkan
berbagai dampak negatif terutama pencemaran air tanah dan lingkungan,
khususnya yang menyangkut unsur pupuk yang mudah larut seperti nitrogen
(N) dan kalium (K). Selain itu, pemberian nitrogen berlebih disamping
menurunkan efisiensi pupuk lainnya, juga dapat memberikan dampak
negatif, diantaranya meningkatkan gangguan hama dan penyakit akibat
nutrisi yang tidak seimbang. Oleh karena itu, perlu upaya perbaikan guna
mengatasi masalah tersebut, sehingga kaidah penggunaan sumber daya
secara efisien dan aman lingkungan dapat diterapkan. Efisiensi
penggunaan pupuk saat ini sudah menjadi suatu keharusan, karena industri
pupuk kimia yang berjumlah enam buah telah beroperasi pada kapasitas
penuh, sedangkan rencana perluasan sejak tahun 1994 hingga saat ini
belum terlaksana. Di sisi lain, permintaan pupuk kimia dalam negeri dari
tahun ke tahun terus meningkat, diperkirakan beberapa tahun mendatang
Indonesia terpaksa makin banyak mengimpor pupuk kimia. Upaya peningkatan
efisiensi telah mendapat dukungan kuat dari kelompok peneliti
bioteknologi berkat keberhasilannya menemukan pupuk organik yang dapat
meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia. Pengembangan industri
pupuk organik mempunyai prospek yang cerah dan menawarkan beberapa
keuntungan, baik bagi produsen, konsumen, maupun bagi perekonomian
nasional. Upaya pembangunan pertanian yang terencana dan terarah yang
dimulai sejak Pelita pertama tahun 1969, telah berhasil mengeluarkan
Indonesia dari pengimpor beras terbesar dunia menjadi negara yang mampu
berswasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan
tersebut, akhir-akhir ini muncul gejala yang mengisyaratkan
ketidakefisienan dalam penggunaan sumber daya pupuk. Keadaan ini sangat
memberatkan petani, lebih-lebih dengan adanya kebijakan penghapusan
subsidi pupuk dan penyesuaian harga jual gabah yang tidak
berimbang.Beberapa penelitian yang menyangkut efisiensi penggunaan
pupuk, khususnya yang dilakukan oleh kelompok peneliti bioteknologi pada
beberapa tahun terakhir, sangat mendukung upaya penghematan penggunaan
pupuk kimia. Upaya tersebut dilakukan melalui pendekatan peningkatan
daya dukung tanah dan/atau peningkatan efisiensi produk pupuk dengan
menggunakan mikroorganisme. Penggunaan mikroorganisme pada pembuatan
pupuk organik, selain meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk, juga akan
mengurangi dampak pencemaran air tanah dan lingkungan yang timbul
akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. Industri pupuk organik saat ini
mulai tumbuh dan berkembang, beberapa perusahaan yang bergerak dibidang
pupuk organik cukup banyak bermunculan, antara lain seperti ; PT
Trimitra Buanawahana Perkasa yang bekerjasama dengan PT Trihantoro Utama
bersama Pemda DKI Jakarta dan Pemkot Bekasi yang saat ini akan mengolah
sampah kota DKI Jakarta, PT Multi Kapital Sejati Mandiri yang
bekerjasama dengan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) dan Pemda Kabupaten
Brebes Jawa Tengah yang mengolah sampah kota dan limbah perdesaan. PT
PUSRI selain memproduksi pupuk kimia, saat ini bersama PT Trihantoro
Utama dan Dinas Kebersihan Pemda DKI Jakarta juga memproduksi pupuk
organik. Sampah dan limbah organik diolah dengan menggunakan teknologi
modern dengan penambahan nutrien tertentu sehingga menghasilkan pupuk
organik yang berkualitas. Penggunaan pupuk organik bermanfaat untuk
meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk kimia, sehingga dosis pupuk dan
dampak pencemaran lingkungan akibat penggunaan pupuk kimia dapat secara
nyata dikurangi. Kemampuan pupuk organik untuk menurunkan dosis
penggunaan pupuk konvensional sekaligus mengurangi biaya pemupukan telah
dibuktikan oleh beberapa hasil penelitian, baik untuk tanaman pangan
(kedelai, padi, jagung, dan kentang) maupun tanaman perkebunan (kelapa
sawit, karet, kakao, teh, dan tebu) yang diketahui selama ini sebagai
pengguna utama pupuk konvensional (pupuk kimia). Lebih lanjut,
kemampuannya untuk mengurangi dampak pencemaran lingkungan terbukti
sejalan dengan kemampuannya menurunkan dosis penggunaan pupuk
kimia.Beberapa hasil penelitian di daerah Pati, Lampung, Magetan,
Banyumas, organik terbukti dapat menekan kebutuhan pupuk urea hingga 100
persen, TSP/SP36 hingga 50 persen, kapur pertanian hingga 50 persen.
Biaya yang dihemat mencapai Rp. 50.000/ha, sedangkan produksi kedelai
meningkat antara 2,45 hingga 57,48 persen. Keuntungan yang diperoleh
petani kedelai naik rata-rata p. 292.000/ha, terdiri dari penghematan
biaya pemupukan sebesar Rp. 50.000/ha, dan kenaikan produksi senilai Rp.
242.000/ha (Saraswati et al., 1998). Aplikasi pupuk organik yang
dikombinasikan dengan separuh takaran dosis standar pupuk kimia
(anorganik) dapat menghemat biaya pemupukan.
Pengujian lapang terhadap tanaman pangan (kentang, jagung, dan padi) juga menunjukkan hasil yang
menggembirakan, karena selain dapat menghemat biaya pupuk, juga dapat
meningkatkan produksi khususnya untuk dosis 75 persen pupuk kimia
(anorganik) ditambah 25 persen pupuk organik (Goenadi et. al., 1998).
Pada kombinasi 75 persen pupuk kimia (anorganik) ditambah 25 persen
pupuk organik tersebut biaya pemupukan dapat dihemat sebesar 20,73
persen untuk tanaman kentang ; 23,01 persen untuk jagung ; dan 17,56
persen untuk padi. Produksi meningkat masing-masing 6,94 persen untuk
kentang, 10,98 persen untuk jagung, dan 25,10 persen untuk padi.
Penggunaan pupuk organik hingga 25 persen akan mengurangi biaya produksi
sebesar 17 hingga 25 persen dari total biaya produksi. Dengan adanya
diversifikasi produk dari pupuk organik ini maka prospek pengembangan
industri pupuk organik ke depan akan semakin menguntungkan sehingga
lahan pekerjaan baru akan semakin luas.Pengendalian Hama & Penyakit
yang Organik Pertanian organik dapat didefinisikan sebagai suatu sistem
produksi pertanian yang menghindarkan atau mengesampingkan penggunaan
senyawa sintetik baik untuk pupuk, zat tumbuh, maupun pestisida.
Dilarangnya
penggunaan bahan kimia sintetik dalam pertanian organik merupakan salah
satu penyebab rendahnya produksi. Di sisi lain, petani telah terbiasa
mengandalkan pestisida sintetik sebagai satu-satunya cara pengendalian
organisme pengganggu tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit tumbuhan.
Seperti diketahui, terdapat sekitar
10.000 spesies serangga yang berpotensi sebagai hama tanaman dan
sekitar 14.000 spesies jamur yang berpotensi sebagai penyebab penyakit
dari berbagai tanaman budidaya. Alasan petani memilih pestisida
sintetik untuk mengendaliakan OPT di lahannya a.l. karena aplikasinya
mudah, efektif dalam mengendalikan OPT, dan banyak tersedia di pasar.
Cara-cara lain dalam pengendalian OPT selain pestisida sintetik,
pestisida biologi dan pestisida botani antara lain yaitu cara
pengendalian menggunakan musuh alami, penggunaan varietas resisten, cara
fisik dan mekanis, dan cara kultur teknis.
Pestisida dapat berasal dari bahan alami dan dapat dari bahan buatan. Di samping itu, pestisida
dapat merupakan bahan organik maupun anorganik. Secara umum disebutkan
bahwa pertanian organik adalah suatu sistem produksi pertanian yang
menghindarkan atau menolak penggunaan pupuk sintetis pestisida sintetis,
dan senyawa tumbuh sintetis. OPM versus IPMAda istilah yang juga
penting untuk diketahui yaitu Organik Pest Management (OPM), yaitu
pengelolaan hama dan penyakit menggunakan cara-cara organik. Selama ini
telah lama dikenal istilah Pengendalian Hama Terpadu atau Integrated
Pest Management (IPM). Persamaan diantara keduanya adalah bagaimana
menurunkan populasi hama dan patogen pada tingkat yang tidak merugikan
dengan memperhatikan masalah lingkungan dan keuntungan ekonomi bagi
petani. Walaupun demikian, ada perbedaan-nya yaitu bahwa pestisida
sintetik masih dimungkinkan untuk digunakan dalam PHT, walaupun
penggunaannya menjadi ‘bila perlu’.
‘Bila
perlu’ berarti bahwa aplikasi pestisida boleh dilakukan bila cara-cara
pengendalian lainnya sudah tidak dapat mengatasi OPT padahal OPT
tersebut diputuskan harus dikendalikan karena telah sampai pada ambang
merugikan. Bila dalam PHT masih digunakan pestisida sintetik, maka PHT
tidak dapat dimasukkan sebagai bagian dalam pertanian organik. Akan
tetapi, bila pestisida sintetik dapat diganti dengan pestisida alami,
yang kemudian disebut sebagai pestisida organik, atau cara pengendalian
lain non-pestisida maka PHT dapat diterapkan dalam pertanian organik.
Cara-Cara Pengendalian Non-Pestisida yang Aman LingkunganBanyak cara
pengendalian OPT selain penggunaan pestisida yang dapat digunakan dalam
pertanian organik. Salah satunya yaitu dengan menghindarkan adanya OPT
saat tanaman sedang dalam masa rentan. Cara menghindari OPT dapat
dilakukan dengan mengatur waktu tanam, pergiliran tanaman, mengatur
jarak tanam ataupun dengan cara menanam tanaman secara intercropping.
Selain itu, penggunaan varietas tahan merupakan suatu pilihan yang
sangat praktis dan ekonomis dalam mengendalikan OPT. Walaupun demikian,
penggunaan varietas yang sama dalam waktu yang berulang-ulang dengan
cara penanaman yang monokultur dalam areal yang relatif luas akan
mendorong terjadinya ras atau biotipe baru dari OPT tersebut. Cara fisik
dan mekanis dalam pengendalian OPT dapat dilakukan dengan berbagai
upaya, antara lain dengan sanitasi atau membersihkan lahan dari
sisa-sisa tanaman sakit atau hama. Selain itu, hama dapat diambil atau
dikumpulkan dengan tangan. Hama juga dapat diperangkap dengan senyawa
kimia yang disebut sebagai feromon, atau menggunakan lampu pada malam
hari. Hama juga dapat diusir atau diperangkap dengan bau-bauan lain
seperti bau bangkai, bau karet yang dibakar dan sebagai-nya.
Penggunaan mulsa plastik dan penjemuran tanah setelah diolah dapat menurunkan serangan penyakit tular tanah.
Hama
dapat pula dikendalikan dengan cara hanya menyemprotkan air dengan
tekanan tertentu atau dikumpulkan dengan menggunakan penyedot mekanis.
Pengendalian dengan cara biologi merupakan harapan besar untuk
pengendalian OPT dalam pertanian organik. Cara ini antara lain
menyang-kut penggunaan tanaman perangkap,
penggunaan
tanaman penolak (tanaman yang tidak disukai), penggunaan mulsa alami,
penggunaan kompos yang memungkinkan berkembangnya musuh alami dalam
tanah, dan penggunaan mikroba sebagai agen pengendali.
PERTANIAN ORGANIK
-
Pengertian Pertanian Organik
Ada dua pemahaman tentang pertanian organik yaitu
dalam arti sempit dan dalam arti luas. Pertanian organik dalam artian
sempit yaitu pertanian yang bebas dari bahan – bahan kimia. Mulai dari
perlakuan untuk mendapatkan benih, penggunaan pupuk, pengendalian hama
dan penyakit sampai perlakuan pascapanen tidak sedikiti pun melibatkan
zat kimia, semua harus bahan hayati, alami. Sedangkan pertanian organik
dalam arti yang luas, adalah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami
dan menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis (pupuk
kimia/pabrik, pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif
pakan). Dengan tujuan untuk menyediakan produk – produk pertanian
(terutama bahan pangan) yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumen
serta menjaga keseimbangan lingkungan dengan menjaga siklus alaminya.
Konsep awal pertanian organik yang ideal adalah menggunakan seluruh input yang berasal dari dalam pertanian organik itu sendiri, dan dijaga hanya minimal sekali input dari luar atau sangat dibatasi. (FG Winarno 2002)
-
Prinsip – Prinsip Pertanian Organik
Prinsip-prinsip pertanian
organik merupakan dasar bagi pertumbuhan dan perkembangan pertanian
organik. Prinsip – prinsip ini berisi tentang sumbangan yang dapat
diberikan pertanian organik bagi dunia, dan merupakan sebuah visi
untuk meningkatkan keseluruhan aspek pertanian secara global. Pertanian
merupakan salah satu kegiatan paling mendasar bagi manusia, karena
semua orang perlu makan setiap hari. Nilai – nilai sejarah, budaya dan
komunitas menyatu dalam pertanian.
Prinsip-prinsip
ini diterapkan dalam pertanian dengan pengertian luas, termasuk
bagaimana manusia memelihara tanah, air, tanaman, dan hewan untuk
menghasilkan, mempersiapkan dan menyalurkan pangan dan produk lainnya.
Prinsip – prinsip tersebut menyangkut bagaimana manusia berhubungan
dengan lingkungan hidup, berhubungan satu sama lain dan menentukan
warisan untuk generasi mendatang.
Pertanian organik didasarkan pada:
-
Prinsip kesehatan
-
Prinsip ekologi
-
Prinsip keadilan
-
Prinsip perlindungan
Setiap prinsip
dinyatakan melalui suatu pernyataan disertai dengan penjelasannya.
Prinsip – prinsip ini harus digunakan secara menyeluruh an dibuat
sebagai prinsip – prinsip etis yang mengilhami tindakan.
-
Prinsip Kesehatan
Pertanian organik
harus melestarikan dan meningkatkan kesehatan tanah, tanaman, hewan,
manusia dan bumi sebagai satu kesatuan dan tak terpisahkan.
Prinsip
ini menunjukkan bahwa kesehatan tiap individu dan komunitas tak dapat
dipisahkan dari kesehatan ekosistem; tanah yang sehat akan menghasilkan
tanaman sehat yang dapat mendukung kesehatan hewan dan manusia.
Kesehatan
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem kehidupan. Hal ini
tidak saja sekedar bebas dari penyakit, tetapi juga dengan memelihara
kesejahteraan fisik, mental, sosial dan ekologi. Ketahanan tubuh,
keceriaan dan pembaharuan diri merupakan hal mendasar untuk menuju
sehat.
Peran
pertanian organik baik dalam produksi, pengolahan, distribusi dan
konsumsi bertujuan untuk melestarikan dan meningkatkan kesehatan
ekosistem dan organisme, dari yang terkecil yang berada di alam tanah
hingga manusia. Secara khusus, pertanian organik dimaksudkan untuk
menghasilkan makanan bermutu tinggi dan bergizi yang mendukung
pemeliharaan kesehatan dan kesejahteraan.
Mengingat
hal tersebut, maka harus dihindari penggunaan pupuk, pestisida,
obat-obatan bagi hewan dan bahan aditif makanan yang dapat berefek
merugikan kesehatan.
-
Prinsip Ekologi
Pertanian organik
harus didasarkan pada sistem dan siklus ekologi kehidupan. Bekerja,
meniru dan berusaha memelihara sistem dan siklus ekologi kehidupan.
Prinsip ekologi meletakkan pertanian organik
dalam sistem ekologi kehidupan. Prinsip ini menyatakan bahwa produksi
didasarkan pada proses dan daur ulang ekologis. Makanan dan
kesejahteraan diperoleh melalui ekologi suatu lingkungan produksi yang
khusus; sebagai contoh, tanaman membutuhkan tanah yang subur, hewan
membutuhkan ekosistem peternakan, ikan dan organisme laut membutuhkan
lingkungan perairan. Budidaya pertanian, peternakan dan pemanenan
produk liar organik haruslah sesuai dengan siklus dan keseimbangan
ekologi di alam. Siklus – siklus ini bersifat universal tetapi
pengoperasiannya bersifat spesifik-lokal. Pengelolaan organik harus
disesuaikan dengan kondisi, ekologi, budaya dan skala lokal. Bahan –
bahan asupan sebaiknya dikurangi dengan cara dipakai kembali, didaur
ulang dan dengan pengelolaan bahan – bahan dan energi secara efisien
guna memelihara, meningkatkan kualitas dan melindungi sumber daya alam.
Pertanian
organik dapat mencapai keseimbangan ekologis melalui pola sistem
pertanian, pembangunan habitat, pemeliharaan keragaman genetika dan
pertanian. Mereka yang menghasilkan, memproses, memasarkan atau
mengkonsumsi produk – produk organik harus melindungi dan memberikan
keuntungan bagi lingkungan secara umum, termasuk di dalamnya tanah,
iklim, habitat, keragaman hayati, udara dan air.
-
Prinsip Keadilan
Pertanian organik harus membangun hubungan yang mampu menjamin keadilan terkait dengan lingkungan dan kesempatan hidup bersama.
Keadilan
dicirikan dengan kesetaraan, saling menghormati, berkeadilan dan
pengelolaan dunia secara bersama, baik antar manusia dan dalam
hubungannya dengan makhluk hidup yang lain. Prinsip ini menekankan bahwa
mereka yang terlibat dalam pertanian organik harus membangun hubungan
yang manusiawi untuk memastikan adanya keadilan bagi semua pihak di
segala tingkatan; seperti petani, pekerja, pemroses, penyalur, pedagang
dan konsumen.
Pertanian
organik harus memberikan kualitas hidup yang baik bagi setiap orang
yang terlibat, menyumbang bagi kedaulatan pangan dan pengurangan
kemiskinan. Pertanian organik bertujuan untuk menghasilkan kecukupan dan
ketersediaan pangan ataupun produk lainnya dengan kualitas yang baik.
Prinsip
keadilan juga menekankan bahwa ternak harus dipelihara dalam kondisi
dan habitat yang sesuai dengan sifat-sifat fisik, alamiah dan terjamin
kesejahteraannya.
Sumber
daya alam dan lingkungan yang digunakan untuk produksi dan konsumsi
harus dikelola dengan cara yang adil secara sosial dan ekologis, dan
dipelihara untuk generasi mendatang. Keadilan memerlukan sistem
produksi, distribusi dan perdagangan yang terbuka, adil, dan
mempertimbangkan biaya sosial dan lingkungan yang sebenarnya.
-
Prinsip Perlindungan
Pertanian
organik harus dikelola secara hati – hati dan bertanggung jawab untuk
melindungi kesehatan dan kesejahteraan generasi sekarang dan mendatang serta lingkungan hidup.
Pertanian organik merupakan
suatu sistem yang hidup dan dinamis yang menjawab tuntutan dan kondisi
yang bersifat internal maupun eksternal. Para pelaku pertanian organik
didorong meningkatkan efisiensi dan produktifitas, tetapi tidak boleh
membahayakan kesehatan dan kesejahteraannya.
Karenanya,
teknologi baru dan metode – metode yang sudah ada perlu dikaji dan
ditinjau ulang. Maka, harus ada penanganan atas pemahaman ekosistem dan
pertanian yang tidak utuh.
Prinsip
ini menyatakan bahwa pencegahan dan tanggung awab merupakan hal
mendasar dalam pengelolaan, pengembangan dan pemilihan teknologi di
pertanian organik. lmu pengetahuan diperlukan untuk menjamin bahwa
pertanian organik bersifat menyehatkan, aman dan ramah lingkungan.
Tetapi pengetahuan ilmiah saja tidaklah cukup. Seiring waktu, pengalaman
praktis yang dipadukan dengan kebijakan dan kearifan tradisional
menjadi solusi tepat. Pertanian organik harus mampu mencegah terjadinya
resiko merugikan dengan menerapkan teknologi tepat guna dan menolak
teknologi yang tak dapat diramalkan akibatnya, seperti rekayasa genetika
(genetic engineering). segala keputusan harus mempertimbangkan nilai –
nilai dan kebutuhan dari semua aspek yang mungkin dapat terkena
dampaknya, melalui proses – proses yang transparan dan artisipatif.
-
Pengembangan Pertanian Organik
Pengembangan
pertanian organik harus mengacu kepada prinsip – prinsip organik
(prinsip kesehatan, prinsip ekologi, prinsip keadilan dan prinsip
perlindungan) agar mendapatkan hasil pangan yang bermutu serta aman
dikonsumsi.
Berdasarkan
pertimbangan pelaksanaan pembangunan pertanian di Indonesia pada saat
ini, ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan
pertanian alternatif:
-
Keragaman daur-ulang limbah organik dan pemanfaatannya untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.
-
Memadukan sumber daya organik dan anorganik pada sistem pertanian di lahan basah dan lahan kering.
-
Mengemangkan sistem pertanian berwawasan konservasi di lahan basah dan lahan kering.
-
Memanfaatkan bermacam – macam jenis limbah sebagai sumber nutrisi tanaman.
-
Reklamasi dan rehabilitasi lahan dengan menerapkan konsep pertanian organik.
-
Perubahan dari tanaman semusim menjadi tanaman keras di lahan kering harus dipadukan dengan pengembangan ternak, pengolahan minimum dan pengolahan residu pertanaman.
-
Mempromosikan pendidikan dan pelatihan bagi penyuluh pertanian untuk memperbaiki citra dan tujuan pertanian organik.
-
Memanfaatkan kotoran ternak yang berasal dari unggas, babi, ayam, itik, kambing, dan kelinci sebagai sumber pakan ikan.
Sesuai
dengan prinsip – prinsip pertanian organik, ada sebuah metode
pengembangan pertanian yang dikenal sebagai metode bertani ‘tanpa
bekerja’ dikembangkan di Jepang oleh seorang petani Jepang yang berlatar
belakang ahli mikrobiologi (mantan seorang ilmuwan laboraturium). Ada empat azas bertani alami yang dipraktikan, yaitu :
-
Tanpa pengolahan, yaitu tanpa membajak atau membalik tanah.
Tanah
sebenarnya mampu mengolah dirinya melalui penetrasi akar – akar
tumbuhan, aktivitas mikroorganisme, binatang – binatang kecil dan cacing
– cacing tanah.
-
Tanpa pupuk kimia atau kompos yang dipersiapkan.
Kebutuhan
pupuk untuk tanaman bisa dipenuhi dengan tanaman penutup tanah semisal
leguminose, kacang – kacangan dan mengembalikan jerami ladang dengan
ditambah sedikit kotoran unggas. Jika tanah dibiarkan pada keadaannya
sendiri, tanah akan mampu menjaga kesuburannya secara alami sesuai
dengan daur teratur dari tumbuhan dan binatang.
Jika
tanah dibiarkan secara alami, maka kesuburannya alaminya akan naik.
Sisa – sisa bahan organik dari tumbuhan dan binatang membusuk, oleh air
hujan zat – zat hara masuk ke dalam tanah, diserap tanaman dan menjadi
makanan mikroorganisme.
-
Tanpa menghilangkan gulma dengan pengerjaan tanah atau herbisida.
Pada dasarnya gulma mempunyai peranan dalam menyeimbangkan komunitas biologi dalam membangun
kesuburan tanah. Gulma – gulma itu cukup dikendalikan ukan dihilangkan.
Mulsa jerami, tanaman penutup tanah, penggenangan air sementara
merupakan cara pengendalian gulma yang efektif.
-
Tidak tergantung dari bahan – bahan kimia.
Ketika
praktik – praktik bertani yang tidak alami dengan pemupukan, pengolahan
tanah, pemberantasan gulma maka ketidakseimbangan penyakit dan hama
menjadi masalah serius. Hama dan penyakit memang tidak dipungkiri dapat
memberi kerugian tetapi masih dalam batas – batas yang tidak memerlukan
penggunaan zat – zat kimia (pestisida). Pendekatan yang arif adalah
dengan menanam tanaman yang lebih tahan
terhadap hama dan penyakit pada sebuah lingkungan yang sehat. Penggunaan
bahan kimia hanya efektif untuk sementara waktu, pada saatnya akan
menyebabkan terjadinya ledakan hama yang lain karena keseimabangan
bioligis terganggu karena penggunaan bahan kimia tersebut.
-
Kelemahan dalam Sistem Pertanian Organik
Beberapa hal yang menjadi kelemahan dalam mengembangkan pertanian organik, yaitu :
-
Ketersediaan bahan organik terbatas dan takarannya harus banyak
-
Transportasi mahal karena bahan bersifat ruah
-
Menghadapi persaingan dengan kepentingan lain dalam memperoleh sisa pertanaman dan limbah organik
-
Hasil pertanian organik lebih sedikit jika dibandingkan dengan pertanian non organik yang menggunakan bahan kimia terutama pada awal menerapkan pertanian organik.
-
Pengendalian jasad pengganggu secara hayati masih kurang efektif jika dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia.
-
Terbatasnya informasi tentang pertanian organik.
-
Kelebihan dalam Sistem PertanianOrganik
-
Meningkatan aktivitas organisme yang menguntungkan bagi tanaman.
Mikroorganisme
seperti rizobium dan mikroriza yang hidup di tanah dan perakaran
tanaman sangat membantu tanaman dalam penyediaan dan penyerapan unsur
hara. Juga banyak organisme lain yang bersifat menekan pertumbuhan hama dan penyakit tanaman. Misalnya pertumbuhan cendawan akar (Ganoderma sp, Phytopthora sp) dapat ditekan dan dihalangi oleh organisme Trichoderma sp.
-
Meningkatkan cita rasa dan kandungan gizi.
Cita rasa hasil tanaman
organikmenjadi lebih menarik, misalnya padi organik akan menghasilkan
beras yang pulen, umbi – umbian terasa lebih empuk dan enak atau buah
menjadi manis dan segar. Selain itu pertanian organik juga meningkatkan
nilai gizi. Hasil uji laboraturium terhadap beras organik mempunyai
kandungan protein, dan lemak lebih tinggi daripada beras nonorganik.
Begitu pula nasi yang berasal dari beras organik bisa bertahan (tidak
mudah basi) dua kali lebih lama ketimbang nasi dan beras organik. Kalau
biasanya nasi akan menjadi basi setelah 12 jam maka nasi dari beras
organik bisa bertahan 24 jam.
-
Meningkatkan ketahanan dari serangan organisme pengganggu.
Karena dengan penggunaan pupuk organik yang cukup maka
unsur – unsur hara makro dan mikro terpenuhi semua sehingga tanaman
lebih kuat dan sehat untuk menahan serangan beberapa organisme
pengganggu dan lebih tahan dari serangan peryakit.
-
Memperpanjang unsur simpan dan memperbaiki struktur.
Buah
dan hasil pertanian tidak cepat rusak atau akibat penyimpanan. Buah
cabai misalnya akan nampak lebih kilap dengan pertanian organik, hal ini
bisa dipahami karena tanaman yang dipupuk organik , secara keseluruhan
bagian tanaman akan mendapat suplai unsur hara secara lengkap sehingga
bagian – bagian sel tanama termasuk sel – sel yang menyusun buah sempurna.
-
Membantu mengurangi erosi.
Pertanian
organik dengan pemakaian pupuk organik mejadikan tanah leih gembur dan
tidak mudah terkikis aliran air. Struktur tanah menjadi lebih kompak
dengan adanya penambahan bahan – bahan organik dan lebih tahan menyimpan
air dibanding dengan tanah yang tidak dipupuk bahan organik. Pada tanah
yang miskin bahan organik, air mudah mengalir dengan membawa tanah.
Langganan:
Postingan
(
Atom
)

